Kementan Temukan Vaksin Flu Burung Pada Itik

Senin, 14 Januari 2013 | 18:49 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Salah seorang penggembala itik di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, ikut merasa resah akibat mewabahnya virus flu burung di Jombang, Lamongan, Mojokerto, Kediri, Blitar dan Tulungagung serta mulai merambah Kabupaten Malang. Ia harus menggembalakan dan menginap sementara di lahan persawahan guna menghindari serangan virus H5N1.
Salah seorang penggembala itik di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, ikut merasa resah akibat mewabahnya virus flu burung di Jombang, Lamongan, Mojokerto, Kediri, Blitar dan Tulungagung serta mulai merambah Kabupaten Malang. Ia harus menggembalakan dan menginap sementara di lahan persawahan guna menghindari serangan virus H5N1. (Aries Sudiono)
Vaksin flu burung H5NI clade 2.3.2 akan segera diproduksi massal.

Kementerian Pertanian (Kementan) pada Februari mendatang akan memproduksi satu juta vaksin flu burung untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri. Langkah itu diambil setelah pemerintah baru-baru ini menemukan vaksin flu burung H5NI clade 2.3.2, yang menyerang itik.

Dengan penemuan itu, Menteri Pertanian Suswono mengharapkan masyarakat tidak perlu khawatir lagi.

“Sehingga tidak perlu khawatir lagi karena sudah ditemukan varian baru itu yang 2.3.2. Jadi tinggal implementasi saja di lapangan,” ucapnya di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (14/1).

Sementara terkait dana kompensasi sebesar Rp215 miliar untuk diberikan kepada peternak yang itiknya terserang virus flu burung yang diajukan oleh Kementan ke Kementerian Keuangan diharapkan disetujui pada Februari mendatang. Besarnya biaya penggantian disesuaikan pada harga itik saat ini.

“Kami harap bisa direalisir ya, bagaimana pun juga depopulasi (pemusnahan, Red) sangat penting. Tapi terbatas, itu juga supaya peternak tidak dirugikan mengenai depopulasi ini,” kata dia.

Di sisi lain, Suswono membantah adanya indikasi unsur bioterorisme dalam merebaknya flu burung jenis baru yang menyerang ribuan itik di Indonesia. Pasalnya, dari sisi mutasi gen hal itu tidak terlihat.

“Kalau sampai bioterorisme sepertinya belum sampai. Tapi yah kewaspadaan itu penting. Ke depan hal-hal itu mungkin saja terjadi,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengaku belum bisa memastikan dari negara mana migrasi itik itu berasal sehingga pihaknya belum berani untuk menyimpulkan hal yang lebih spesifik.

“Kita belum bisa menyimpulkan itu. Pilihannya dua tadi, dari negara lain masuk ke Indonesia atau migrasi burung yang diduga masuk dari India itu mau ke Australia,” jelasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon