ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Inflasi Papua Pegunungan Terkendali, Kemendagri Sindir Daerah Lain

Senin, 6 Oktober 2025 | 13:50 WIB
AS
DM
Penulis: Addin Anugrah Siwi | Editor: DM
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengingatkan seluruh kepala daerah agar segera mengambil langkah konkret menekan lonjakan inflasi yang terjadi di sejumlah wilayah. Inflasi yang menembus angka 5% bukan hal sepele, melainkan sinyal bahaya yang harus segera direspons pemerintah daerah.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengingatkan seluruh kepala daerah agar segera mengambil langkah konkret menekan lonjakan inflasi yang terjadi di sejumlah wilayah. Inflasi yang menembus angka 5% bukan hal sepele, melainkan sinyal bahaya yang harus segera direspons pemerintah daerah. (Beritasatu.com/Addin Anugrah Siwi)

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir menyoroti fenomena menarik dalam perkembangan inflasi di sejumlah daerah. Menurut dia, daerah dengan akses logistik lancar justru mencatat inflasi tinggi, sedangkan wilayah dengan medan berat, seperti Papua Pegunungan mampu menjaga stabilitas harga.

“Kita sama-sama tahu bagaimana sulitnya kondisi medan di Papua Pegunungan. Namun, mereka bisa 3,55% (year on year/yoy). Sementara provinsi lain yang aksesnya mudah justru angkanya tinggi,” ujarnya.

Tomsi menyampaikan hal itu dalam rapat pengendalian inflasi daerah 2025, di Jakarta, Senin (6/10/2025). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah provinsi di Sumatera menjadi penyumbang inflasi tertinggi secara nasional, yaitu Sumatera Utara dengan 5,32% (yoy), Riau 5,08%, Aceh 4,45%, Sumatera Barat 4,22%.

ADVERTISEMENT

Selain itu, Sulawesi Tengah (3,88%), Jambi (3,77%), Sulawesi Tenggara (3,68%), dan Papua Pegunungan (3,55%) juga tercatat mengalami kenaikan harga, meski Papua masih tergolong stabil.

Tomsi menegaskan capaian Papua Pegunungan seharusnya menjadi contoh bagi daerah lain. “Daerah dengan akses terbatas saja bisa menekan inflasi. Artinya, yang infrastrukturnya bagus seharusnya bisa jauh lebih baik,” katanya.

Tomsi menilai, kondisi ini menunjukkan masih lemahnya pengawasan rantai pasok dan koordinasi di daerah, terutama bagi kepala daerah di wilayah dengan logistik lancar. “Yang menjadi permasalahan hanya sedikit provinsi dan kabupaten, tetapi inflasinya tinggi. Kepala daerah di wilayah merah ini harus bekerja keras,” tegasnya.

Tomsi juga mengingatkan para gubernur, bupati, dan wali kota agar tidak hanya mengandalkan laporan dari dinas, tetapi turun langsung ke lapangan untuk memantau harga dan memastikan kebijakan pengendalian inflasi berjalan efektif. “Kalau dinas-dinasnya tidak bergerak, mungkin sudah selayaknya dievaluasi,” tegasnya.

Dengan inflasi yang berhasil ditekan di bawah 4 persen, Papua Pegunungan dinilai sebagai bukti kepemimpinan dan koordinasi yang solid mampu mengatasi keterbatasan infrastruktur sekaligus menjaga kestabilan ekonomi daerah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Mendagri Minta Polri Kawal APBD dan Stabilitas Inflasi Daerah

Mendagri Minta Polri Kawal APBD dan Stabilitas Inflasi Daerah

NASIONAL
Mendagri Tito Minta Pemda Segera Kendalikan Harga Saat Inflasi Naik

Mendagri Tito Minta Pemda Segera Kendalikan Harga Saat Inflasi Naik

NASIONAL
Kemendagri Wanti-wanti Daerah: Inflasi 5 Persen Itu Sinyal Bahaya

Kemendagri Wanti-wanti Daerah: Inflasi 5 Persen Itu Sinyal Bahaya

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon