ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Satgas: Angkut Jenazah Pakai Truk Hanya Simulasi

Jumat, 25 Juni 2021 | 07:44 WIB
HS
JS
Penulis: Hendro Dahlan Situmorang | Editor: JAS
Truk pengangkut jenazah Covid-19 yang disimulasikan Pemprov DKI Jakarta pada Selasa 22 Juni 2021.
Truk pengangkut jenazah Covid-19 yang disimulasikan Pemprov DKI Jakarta pada Selasa 22 Juni 2021. (Twitter)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Alexander K Ginting mengatakan beredarnya foto di media sosial terkait pengangkutan peti jenazah Covid-19 memakai kendaraan truk, hanyalah sebuah simulasi alias percobaan.

"Itu hanyalah simulasi. Setelah kami cek tidak ada rumah sakit yang menyiapkan truk untuk evakuasi jenazah. Saat ini ambulans dan mobil jenazah masih tersedia banyak. Simulasi dilakukan sebagai persiapan dalam mengantisipasi kejadian darurat dan luar biasa pascalonjakan kasus Covid-19," katanya kepada Beritasatu.com, Kamis (24/6/2021).

Alexander menjamin saat ini layanan pengantaran jenazah ke pemakaman masih terakomodasi dengan ambulans. Simulasi dilakukan untuk mengukur seberapa banyak kekuatan armada ambulans dan mobil jenazah.

Menurutnya beberapa hari lalu, pihaknya juga melakukan simulasi memanfaatkan kendaraan personel untuk mengangkut logistik makanan. Jadi di saat pandemi ini, ada pelatihan agar petugas tidak terjebak rutinitas saja. Pelatihan yang dilakukan guna atasi situasi gawat darurat seperti mengatasi kebakaran, saat antrean Covid-19 tiba-tiba terkena serangan jantung dan lainnya.

ADVERTISEMENT

Bila terjadi lonjakan kasus Covid-19, lanjut dia, yang tetap harus dilakukan adalah prosedur pelaksanaannya. Jadi mobil sprinter pun bisa mengangkut jenazah, asal diurus sesuai dengan protokol yang berlaku dan mesin mobil telah disterilkan, masuk dalam bungkus plastik yang sudah dirapikan dan ditaruh di dalam tempat yang sudah disiapkan.

"Petugas yang mendampingi ke pemakaman pun wajib memakai APD (alat pelindung diri) lengkap dan mengantar ke makam yang sudah ditetapkan. Jadi itu ada persyaratannya. Kalau mobil yang tergolong kecil tentu tidak bisalah, kecuali mobil besar boks," ungkapnya.

Prinsipnya jenazah dipindahkan dari rumah sakit ke lokasi pemakaman dan tentu ada prosedurnya. Sudah dilakukan sesuai protokol kesehatan dan ada berita acara serah terima dari rumah sakit, proses pemakaman sesuai protokol keagamaan yang sudah diatur masing-masing, bahkan di suatu daerah tertentu ada juga protokol budaya.

"Setelah pulang dari pemakaman, petugas juga wajib menjalankan prokes kembali seperti mengganti APD, cuci tangan, dan lainnya," tegasnya.

Namun yang harus diingat untuk pemakaman dan juga tempat kamar jenazah tidak boleh ada kerumunan. Jadi karena keluarga sudah kontak erat, maka saat mengantar, pihak keluarga ada di mobil terpisah dengan si jenazah.

Menurutnya, untuk mengantar ke pemakaman itu bukan ambulans, tetapi mobil jenazah. Tetapi karena tidak ada yang lain dan kehabisan, digunakanlah ambulans. Ditegaskan kendaraan ambulans sebenarnya hanya untuk mengantar orang yang sakit. Namun saat ambulans terpaksa harus digunakan untuk mengantar jenazah, mobil dilakukan sterilisasi dan pembersihan.

Kebutuhan ambulans saat ini masih mencukupi melayani orang sakit, bahkan juga digunakan untuk mengantar tim dokter P3K. Ambulans itu digunakan untuk kedaruratan mengantar dan menjemput orang sakit.

Berdasarkan Kepmenkes 143/Menkes-Kesos/SK/II/2001 tentang Standarisasi Kendaraan Pelayanan Medik, khususnya pada bagian perbedaan ambulans untuk orang sakit dan mobil jenazah.

Dalam Kepmenkes tersebut, dijelaskan secara lengkap aturan dan jenis-jenis kendaraan medis di Indonesia. Ada enam, yaitu Ambulans Transportasi, Ambulans Gawat Darurat, Ambulans Rumah Sakit Lapangan, Ambulans Pelayanan Medik Bergerak, Kereta Jenazah, dan Ambulans Udara.

Lalu kenapa terkadang ada yang susah mendapatkan ambulans? Alexander menjelaskan ambulans juga seperti ada pick hour, yakni pada jam-jam tertentu mengalami jam sibuk emergency, ada yang menjemput dan mengantar sakit dan emergency.

"Tentu pasien yang masih hidup yang diutamakan. Ada situasi emergency, ada jenazah dan ibu akan melahirkan. Pilihan tentu ada yang diutamakan seperti ibu melahirkan dan situasi lainnya," jelasnya.

Sementara untuk jenazah itu masalah waktu saja. Kalau sudah malam hari, akan sulit memakamkannya. Jadi tinggal membagi waktu saja.

"Kalau jenazah lebih dari satu perlu juga diidentifikasi jangan sampai salah. Jangan sampai pihak keluarga menganggap itu jenazah keluarganya padahal bukan. Maka identifikasi perlu saat berada di kamar jenazah supaya yang keluar dari kamar itu adalah benar keluarga karena jenazah akan terbungkus kain kafan dan plastik, sehingga orang lain tidak bisa mengenalinya karena sudah berbeda," tutup dia.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon