Sarwono Kusumaatmadja: Indonesia Alami Masa Akselerasi Perubahan Iklim
Selasa, 28 Desember 2021 | 20:04 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim (DPPPI) Sarwono Kusumaatmadja menyebut saat ini Indonesia sedang berada pada masa akselerasi perubahan iklim. Hal itu disampaikan Sarwono dalam webinar "Indonesia Climate Change Webinar Forum, Aksi Pemberdayaan Menuju Adaptasi Fase Baru", Selasa (28/12/2021).
"Jika dulu kita hanya menjadi saksi dari perubahan iklim, tapi sekarang kita ikut merasakannya. Seperti banjir, longsor, atau naiknya air laut yang bisa dirasakan di beberapa daerah dan pulau-pulau kecil. Saat ini terjadi akselerasi perubahan iklim dan gejalanya bermacam-macam," jelas Sarwono.
Gejala yang dimaksud Sarwono, seperti yang terjadi di Serbia. Negara yang titik bekunya di bawah nol derajat Celcius itu mengalami kebakaran secara tiba-tiba dengan temperatur udara rata-rata di titik 48 derajat Celcius.
"Kita tidak bisa menganggap hal ini enteng karena pada beberapa cara lain kita di Indonesia kemungkinan bisa merasakan hal yang sama. Suatu negara tropis, yang sangat jauh dari kutub utara, nah, kalau sudah beku, kita tidak tahu lagi mikroorganisme atau virus yang sudah beku jutaan tahun lalu, menguap kembali dan menciptakan bencana baru," ujarnya
Mengenai hal tersebut, Sarwono menuturkan perlu adanya mitigasi, adaptasi, dan jalan keluar yang bisa dibahas di konferensi aktif.
"Tapi konferensi ini tidak cukup jika hanya sebagai instrumen pengendalian," kata Sarwono yang merupakan Menteri Negara Lingkungan Hidup periode 1993-1998.
Selain adanya akselerasi iklim, Sarwono juga menyoroti soal pandemi Covid-19 yang terhitung sudah dua tahun terjadi di Indonesia.
"Kita saat ini tengah menghadapi pandemi dan belum tahu kapan akan berakhirnya, ditambah dengan adanya varian Omicron, yang sedang menjadi pembicaraan," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Sarwono juga membahas perkembangan teknologi digital yang telah merambah ke tahap pengembangan kecerdasan buatan. Menurutnya, sektor ini memiliki kelebihan dan kekurangannya.
"Teknologi digital ini banyak mudaratnya, tapi dengan pendekatan etik yang kuat tentu ada banyak manfaatnya, demikian juga dengan anak-anak muda yang telah fasih dengan teknologi digital yang mampu menghasilkan penemuan baru," jelasnya.
Dalam menghadapi perubahan-perubahan tersebut, mantan Senator DKI Jakarta ini mengatakan, diperlukan bentuk-bentuk-bentuk partisipasi baru yang mempunyai tujuan yang lebih fokus.
"Karena selama menghadapi perubahan ini (iklim, pandemi, dan teknologi) kita sering disodori pilihan-pilihan yang luas sehingga bingung untuk memilih yang tepat," jelasnya
Dengan begitu banyaknya variabel perubahan di dunia yang kompleks dan tidak memungkinkan untuk diselesaikan secara cepat, Sarwono mengimbau masyarakat untuk berada di lingkungan sosial yang tepat dan kompak serta selalu menyiapkan kebutuhan pokok untuk bertahan atau survive. Dari kelompok-kelompok inilah akan tumbuh bibit-bibit baru masa depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




