Analis Yakin Akuisisi Nissan Bisa Mengguncang Bisnis Motor Honda
Selasa, 4 Februari 2025 | 06:22 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Honda tengah bersiap untuk langkah besar dengan rencana akuisisi Nissan. Namun, keputusan ini bisa menjadi ancaman serius bagi divisi motor Honda, yang selama ini menjadi sumber keuntungan utama.
Jika Honda harus ikut menanggung kondisi keuangan Nissan yang bermasalah, pertumbuhan bisnis motor mereka bisa terhambat atau bahkan terdampak negatif.Honda saat ini menguasai 40% pasar sepeda motor global, menjadikannya produsen terbesar di dunia.
Dengan jaringan lebih dari 30.000 dealer dan kapasitas produksi lebih dari 20 juta unit per tahun, bisnis motor Honda adalah pilar utama perusahaan. Bahkan, divisi roda dua ini menyumbang 16% dari total penjualan Honda, tetapi memberikan kontribusi yang jauh lebih besar terhadap keuntungan, sekitar 40% atau US$ 3,6 miliar, hampir setara dengan bisnis mobil mereka yang mencetak US$ 3,8 miliar.
Menggabungkan Nissan di bawah satu perusahaan induk bisa membawa dampak besar bagi Honda. "Bisnis motor Honda menjadi semakin penting untuk dipertaruhkan jika merger ini memberikan dampak negatif dalam jangka pendek," kata Julie Boote, analis otomotif dari Pelham Smithers Associates dikutip Japan Times, Senin (3/2/2025).
Ia menambahkan bahwa para eksekutif Honda kemungkinan besar akan berusaha menjaga divisi ini tetap terpisah agar tidak terdampak langsung oleh kondisi Nissan. Mereka tidak akan senang jika akhirnya bisnis kendaraan roda dua dikorbankan untuk membantu Nissan.
Saat ini, Honda dan Nissan telah mencapai kesepakatan awal untuk bergabung dalam satu holding yang direncanakan melantai di bursa saham pada Agustus 2026. Namun, bagaimana pengelolaan kedua merek di bawah satu atap masih menjadi tanda tanya besar.
Dari sisi sumber daya, Nissan memang memiliki keunggulan dalam kapasitas produksi dan tenaga kerja. Tetapi, perusahaan ini juga memiliki banyak masalah, mulai dari keuntungan yang terus menurun, insentif dealer yang membebani keuangan, hingga produk yang kurang diminati pasar. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Honda justru harus menanggung beban besar jika akuisisi ini tetap dilanjutkan.
Minoru Kato, eksekutif yang bertanggung jawab atas divisi motor Honda, mencoba meredam kekhawatiran ini. "Saya tidak percaya bisnis roda dua akan terdampak oleh akuisisi Nissan," ujarnya.
BACA JUGA
Teka-teki Perselingkuhan David Clement: Berbagai Kontroversi yang Membuat Agnes Jennifer Kecewa
"Namun, menemukan sinergi yang tepat dalam negosiasi ini tetap menjadi hal yang sangat penting," sambungnya.
Selain menghadapi risiko dari akuisisi Nissan, Honda juga dihadapkan pada tantangan besar lainnya yakni transisi industri ke kendaraan listrik. Perusahaan ini berencana meluncurkan 30 model motor listrik dan menargetkan penjualan 4 juta unit per tahun pada 2030. Pasar utama mereka adalah India, Indonesia, Filipina, Brasil, serta negara-negara lain di Amerika Selatan dan Tengah.
Menurut BloombergNEF, penjualan sepeda motor global diprediksi akan mencapai 105 juta unit pada 2030, naik dari 96 juta unit pada 2024. Namun, industri ini kemungkinan akan mencapai titik jenuh sekitar 2035, ketika konsumen mulai beralih ke moda transportasi lain. Dengan waktu yang terbatas untuk mempertahankan dominasinya, Honda harus memastikan bahwa bisnis motornya tidak terbebani oleh Nissan, sebuah perusahaan yang sama sekali tidak memiliki pengalaman di segmen roda dua.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




