Sambut Rute Internasional, Workshop Karantina Digelar di Bandara SMB
Selasa, 15 Juli 2025 | 21:04 WIB
Palembang, Beritasatu.com — Menyambut dibukanya kembali rute penerbangan internasional dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Selatan (Karantina Sumsel) menggandeng PT Angkasa Pura II menggelar Workshop Penguatan Perkarantinaan selama tiga hari, pada 15–17 Juli 2025.
Workshop berlangsung di ruang pertemuan Avsec Bandara SMB II Palembang, sebagai langkah strategis memperkuat kesiapan personel dalam mendeteksi dan menangani potensi risiko biosekuriti dari lalu lintas internasional. Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata dukungan terhadap amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
“Sinergi ini penting sebagai bentuk kesiapsiagaan kita menghadapi potensi masuknya hama penyakit hewan karantina (HPHK), hama penyakit ikan karantina (HPIK), dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) melalui jalur udara,” jelas Kepala Karantina Sumsel, Sri Endah Ekandari.
Senada dengan itu, General Manager PT Angkasa Pura II SMB II, R Iwan Winaya Mahdar menyatakan, kerja sama lintas sektor sangat krusial demi menjaga keamanan hayati nasional serta kelancaran mobilitas barang dan penumpang di terminal internasional.
Sebagai informasi, Bandara SMB II akan membuka rute perdana Palembang–Kuala Lumpur pada 18 Juli 2025. Dengan pembukaan rute ini, Bandara SMB II kembali menjadi pintu gerbang internasional yang memungkinkan lalu lintas langsung berbagai komoditas hewan, ikan, tumbuhan, dan produk turunannya.
Workshop ini diikuti oleh 30 pejabat karantina, 117 petugas aviation security (avsec), serta 20 perwakilan dari instansi CIQ (customs, immigration, quarantine), maskapai penerbangan, dan media. Mereka dilatih untuk mengenali dan menangani berbagai media pembawa risiko karantina, baik melalui bagasi penumpang, kargo, maupun hasil deteksi mesin X-ray.
Materi pelatihan mencakup identifikasi komoditas berisiko seperti benih lobster, sarang burung walet, dan produk pertanian lainnya yang sering tidak terdeteksi secara kasat mata. Para peserta juga mendapatkan pembekalan terkait regulasi karantina, alur penanganan pelanggaran, hingga koordinasi antarinstansi dalam proses penindakan.
Workshop ini semakin menarik dengan adanya simulasi lapangan langsung di Pos Laud SMB II. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk praktik langsung mendeteksi komoditas karantina menggunakan X-ray serta memahami prosedur penanganannya.
“Melalui pelatihan intensif ini, kami ingin membentuk satu pemahaman bersama agar setiap temuan bisa ditindaklanjuti secara cepat, tepat, dan sesuai prosedur,” ungkap Sri Endah.
Kegiatan ini menjadi tonggak penting Karantina Sumsel sebagai garda depan dalam menjaga biosekuriti nasional. Sinergi antara karantina, avsec, dan instansi CIQ mempertegas pentingnya kolaborasi dalam pengawasan lintas batas, terlebih di tengah meningkatnya aktivitas penerbangan internasional dari Palembang.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi penguatan sistem pengawasan CIQ dalam menghadapi tantangan global, khususnya penyelundupan dan penyebaran penyakit lintas negara,” tegas Sri Endah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




