ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Keluh Kesah Nelayan di Banten pada Hari Nelayan Internasional

Minggu, 30 Juni 2024 | 01:01 WIB
IM
H
Penulis: Ibnu Malikh | Editor: HE
Puluhan perahu nelayan dari pantai utara Kabupaten Serang, Banten, turut merayakan Hari Nelayan Internasional, Sabtu, 29 Juni 2024.
Puluhan perahu nelayan dari pantai utara Kabupaten Serang, Banten, turut merayakan Hari Nelayan Internasional, Sabtu, 29 Juni 2024. (Beritasatu.com/Ibnu Malikh)

Serang, Beritasatu.com - Puluhan perahu nelayan dari pantai utara Kabupaten Serang, Banten, turut merayakan Hari Nelayan Internasional pada Sabtu (29/6/2024). Puluhan perahu yang dihiasi bendera merah putih berlayar mengelilingi kawasan perairan utara Banten, mulai dari pantai Kepuh di Bojonegara hingga Pulo Ampel, sebelum kembali ke titik awal.

Ratusan nelayan bersama keluarga mereka tampak antusias mengikuti acara ini. Mereka merupakan nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Acara ini juga merupakan bentuk syukur atas rezeki yang diperoleh serta cara nelayan untuk menunjukkan kebersamaan dan kecintaan pada laut dan lingkungan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Serang Sabihis menyampaikan, sebagai bentuk rasa syukur di Hari Nelayan Internasional, para nelayan menggelar karnaval perahu di sepanjang pantai utara.

ADVERTISEMENT

Namun, ada banyak tantangan yang dihadapi nelayan di wilayah tersebut, terutama dengan aktivitas kapal besar perusahaan yang mengganggu area tangkapan ikan nelayan. Kehadiran kapal-kapal besar ini berdampak buruk pada ekosistem laut dan membuat ikan menghilang.

"Kapal-kapal besar yang beroperasi di pantai utara Banten membuat ruang laut untuk nelayan menjadi terbatas. Nelayan merasa dirugikan karena mereka tidak berani menegur kapal-kapal besar tersebut. Kami berharap ke depannya para pelaku usaha dapat bersinergi dengan kami di HNSI," kata Sabihis kepada Beritasatu.com, Sabtu (29/6/2024).

Sabihis juga mengungkapkan masalah lain, seperti tidak adanya dermaga yang memadai untuk sandar serta kurangnya stasiun bahan bakar yang menjual solar khusus untuk nelayan. Saat ini, nelayan harus mencari bahan bakar di luar wilayah atau mengisi di SPBU dengan waktu terbatas.

"Selain dampak lingkungan, kapal-kapal besar juga mengeluarkan limbah seperti solar dan oli yang menyebabkan ikan menjauh. Jaring nelayan sering kali rusak karena kapal besar ini. Masalah ini sudah kami rasakan sejak lama," tambahnya.

Masalah yang dihadapi nelayan di perairan utara Banten ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Upaya terus dilakukan, tetapi belum menemukan solusi yang jelas untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan.

"Mudah-mudahan ke depannya situasi bisa lebih baik dan semua pihak mendukung. Ini adalah keseriusan kami dari HNSI untuk membantu para nelayan," ungkap Sabihis.

Menanggapi keluhan nelayan, Ketua DPRD Banten Andra Soni yang hadir di acara tersebut, menegaskan bahwa pemerintah provinsi harus memperhatikan dan melayani kebutuhan nelayan.

"Semangat nelayan dalam kegiatan ini luar biasa. Pemerintah harus melayani dan mengatur dengan baik agar nelayan bisa sejahtera," kata Andra Soni.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pemotongan Kapal Ilegal Cemari Laut, Nelayan di Banten Protes

Pemotongan Kapal Ilegal Cemari Laut, Nelayan di Banten Protes

BANTEN

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon