ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ririn, Bocah 10 Tahun di Pandeglang Alami Lumpuh Otak dan Gizi Buruk

Sabtu, 26 Juli 2025 | 17:03 WIB
B
IC
Penulis: Budiman | Editor: CAH
Ririn (10), seorang anak perempuan asal Kampung Carang Datang, Desa Banyumas, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Banten, menderita cerebral palsy atau kelumpuhan otot dan gizi buruk sejak berusia empat bulan, Sabtu 26 Juli 2025.
Ririn (10), seorang anak perempuan asal Kampung Carang Datang, Desa Banyumas, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Banten, menderita cerebral palsy atau kelumpuhan otot dan gizi buruk sejak berusia empat bulan, Sabtu 26 Juli 2025. (Beritasatu.com/Budiman)

Lebak, Beritasatu.com - Nasib pilu dialami Ririn (10), seorang bocah perempuan asal Kampung Carang Datang, Desa Banyumas, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang harus menghadapi ujian berat dalam hidupnya sejak usia empat bulan. Ia divonis menderita cerebral palsy atau kelumpuhan otot disertai gizi buruk, Sabtu (26/7/2025).

Kondisi tubuhnya tampak kurus dan ringkih. Di usianya yang seharusnya aktif bermain dan bertumbuh, berat badan Ririn anak pertama dari dua bersaudara itu hanya mencapai 7 kilogram, jauh di bawah rata-rata anak seusianya yang umumnya memiliki berat antara 20 hingga 30 kilogram.

Saat ditemui Beritasatu.com di kediamannya, sang ibu, Sindi, menceritakan anaknya itu lahir dengan kondisi sehat dan berat badan normal, yakni 3,4 kilogram. Namun, memasuki usia empat bulan, ia mengalami demam tinggi yang disusul kejang-kejang. Sejak saat itulah, kesehatan anaknya terus menurun secara drastis.

ADVERTISEMENT

"Awalnya itu anak saya kena panas tinggi pas umur tiga hari. Lalu pas umur empat bulan sempat kejang-kejang. Hasil pemeriksaan dokter, katanya anak saya kena kelumpuhan otot dan gizi buruk," kata Cindi, kepada wartawan saat ditemui di rumahnya, Jumat (25/7/2025).

Sindi mengatakan, dirinya mengontrak di salah satu perumahan di Pandeglang dan hanya bekerja sebagai buruh cuci dan gosok di rumah tetangga penghasilannya tidak menentu. Jika ada pekerjaan, ia bisa memperoleh upah Rp 50.000 per hari. 

Namun, pekerjaan tersebut tidak datang setiap hari. Akibat keterbatasan ekonomi, ia mengaku tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi anaknya, apalagi untuk membiayai pengobatannya.

"Kerjaan saya serabutan, paling menyuci sama gosok di rumah tetangga. Itu juga enggak setiap hari. Penghasilan saya pas-pasan," katanya dengan suara lirih.

Sindi berharap adanya uluran tangan dari pemerintah dan para dermawan untuk membantu pengobatan anak kesayangannya itu. "Saya berharap ada bantuan dari pemerintah sama dermawan biar anak saya sehat lagi," ucapnya penuh harap.

Tanggapan Puskesmas

Sementara itu, Kepala Puskesmas Bojong, Ita Rosiawati, mengungkapkan, bahwa pihaknya selama ini telah memberikan penanganan. Bahkan kata dia, penanganan tersebut sudah dilakukannya sejak Ririn masih bayi. 

"Sudah diketahui sejak bayi, kebetulan beliau pada saat kelahirannya ditangani oleh bidan kami di sini. Jadi sejak bayi memang anak tersebut sudah diketahui kalau pertumbuhan sama perkembangan anaknya memang sudah terganggu. Sudah kami tangani juga sejak dari bayi, bahkan sampai saat ini pun masih kami tangani," ungkap Ita, saat ditemui di ruang kerjanya.

Ita menjelaskan, Ririn diketahui memiliki gangguan pertumbuhan dan perkembangan sejak kelahirannya. Saat ini pihak pihak puskesmas masih terus memberikan pendampingan serta pengawasan terhadap Ririn.

"Cerebral palsy memang berdampak pada saraf, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk menyebabkan gizi buruk. Kami sudah tangani sejak bayi dan sekarang kami sedang berkoordinasi untuk membawa anak ini ke RS Banten," jelas Ita.

Lebih lanjut, Ita menyebutkan Puskesmas Bojong bersama pihak Muspika, TKSK, dan Kepala Desa akan terus berupaya membantu proses pengobatan Ririn, termasuk menanggung biaya makan sehari-hari.

"Kami sudah konsultasi dengan Kepala Dinas Kesehatan dan akan berkoordinasi dengan RS Banten. Insyaallah, untuk kebutuhan sehari-hari juga kami akan bantu," pungkasnya.

Kisah Ririn menggambarkan masih adanya anak-anak di daerah yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat, terutama dalam pemenuhan hak dasar seperti kesehatan dan gizi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon