TBC Masih Jadi Masalah Serius di Lebak, 74 Warga Meninggal Dunia
Senin, 6 Oktober 2025 | 12:03 WIB
Lebak, Beritasatu.com- Kasus penyakit tuberkulosis (TBC) yang terjadi di Kabupaten Lebak, Banten masih persoalan serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, Banten, mencatat sebanyak 4.603 kasus tuberkulosis (TB) terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Dari jumlah tersebut, 74 orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit menular tersebut.
Kepala Pelaksana Plt (Plt) Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak Endang Komarudin mengatakan, meski demikian, jumlah kasus TBC pada 2025 sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, hingga akhir Desember 2024 mencapai 5.868 kasus.
"Untuk tahun ini, sampai Oktober 2025 tercatat ada 4.603 kasus. Tahun lalu sampai Desember tercatat 5.868. Mudah-mudahan tahun ini tidak ada tambahan kasus lagi, sehingga jumlahnya bisa menurun," kata Endang kepada Beritasatu.com, saat ditemui pada Senin (6/10/2025).
Menurut catatan Dinkes Lebak, kasus TBC terbanyak saat ini ditemukan di wilayah selatan Lebak, terutama Kecamatan Cibeber.
Meski demikian, menurut Endang, penurunan jumlah kasus bukan menjadi fokus utama. Pemerintah daerah saat ini lebih menekankan pada upaya eliminasi TBC pada 2030 sesuai target nasional.
"Yang terpenting bukan sekadar turun atau naiknya angka kasu, tetapi bagaimana upaya kita untuk mengeliminasi TBC sepenuhnya pada 2030," tambahnya.
Endang menjelaskan, penyebab utama penyakit TBC adalah penularan langsung dari penderita aktif, terutama di lingkungan rumah dengan sirkulasi udara yang buruk. Oleh karenanya, ia menekankan pentingnya ventilasi dan paparan sinar matahari di rumah agar bakteri penyebab TBC tidak berkembang.
"Kuman TBC itu bisa mati jika terkena sinar matahari. Karena itu, ventilasi rumah harus baik dan jendela dibuka setiap pagi agar sirkulasi udara lancar," tegas Endang.
Kini, untuk menekan angka kasus TBC di Lebak, pihak Dinkes Lebak dikatakan Endang tengah gencar melakukan deklarasi eliminasi TB dan menggandeng seluruh kepala desa serta aparatur wilayah.
"Fokus utama saat ini adalah memastikan pasien tidak berhenti minum obat di tengah jalan, karena hal itu dapat menyebabkan kambuhnya penyakit dan resistansi obat. Masyarakat semua, kalau sakit jangan dibiarkan langsung berobat ke puskesmas terdekat. Selain itu, jaga kebersihan rumah dan buka ventilasi setiap pagi agar udara tetap sehat," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




