Pelaku Usaha Nilai Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran Jadi Stimulus Pergerakan Ekonomi Lokal
Rabu, 31 Januari 2024 | 21:36 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Program makan siang gratis bagi anak sekolah dan santri yang diusung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dinilai tidak hanya mengatasi masalah gizi anak usia sekolah, tetapi juga dapat menjadi stimulus pergerakan ekonomi lokal.
Hal itu karena untuk menyediakan makan siang tersebut harus digerakkan rantai pasok mulai dari petani, peternak, nelayan, pedagang pasar, UMKM, hingga komunitas ibu-ibu orang tua murid.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Iden Gobel di Jakarta menanggapi program makan siang gratis Prabowo-Gibran.
“Saya memandangnya dari sudut pandang pelaku usaha. Program ini memberi multiplier effect bagi rakyat. Ibaratnya, pemerintah menyuntik dana untuk gizi anak sekolah melalui APBN, dan di dalam penyediaannya ekonomi lokal dan ekonomi rakyat bergerak,” kata Iden Gobel di Jakarta, Rabu (31/1/2024).
Menurutnya, ibu-ibu orang tua murid dapat dilatih mengenai cara mengolah dan menyajikan makanan sesuai standar keamanan pangan.
“Tukang sayur mendapat dua order yang konsisten sepanjang tahun, dan ini menyemangati petani sayur untuk lebih produktif. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang dahsyat,” ujar Iden.
Wakil Sekretaris Jenderal II PPJI Budi Syahmenan menjelaskan, dengan program tersebut maka akan ada dua arus pergerakan ekonomi.
“Pertama, pemerintah menyuntikkan sekitar Rp 400 triliun melalui APBN. Ini akan menjadi stimulus bergeraknya ekonomi lokal mulai dari komunitas ibu-ibu, orang tua murid, pengusaha jasaboga lokal, pedagang pasar, hingga petani, peternak, dan nelayan,” katanya.
BACA JUGA
Soal Jokowi Bagi-bagi Bansos, TKN Prabowo-Gibran: Sebelum Pilpres 2024 Juga Sudah Dilakukan
“Selanjutnya, ada arus pergerakan ekonomi lain yang disebabkan oleh penghematan ekonomi rumah tangga, karena ibu-ibu berkurang kewajiban porsi yang harus dia sediakan setiap harinya. Program ini bukan soal makan dan gizi, tetapi gerakan ekonomi lokal,” tambah Budi.
Budi menjelaskan, manfaat ekonomi tersebut telah disosialisasikan dalam acara “Simulasi Penyajian Makanan Sehat, Bergizi, Terjangkau” yang telah berjalan di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah, yakni Semarang, Kendal, Tegal, Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Demak, Sukoharjo, dan Boyolali.
Simulasi ini akan dilanjutkan ke Yogyakarta dan titik-titik lain di Jawa Tengah hingga masa kampanye berakhir. Simulasi tersebut dilakukan relawan Aksi Sahabat Gibran (AksiBaGi), kelompok relawan yang memang fokus dalam sosialisasi program makan siang gratis PrabowoGibran kepada masyarakat.
“Bersama chef dan pelaku usaha boga kami sudah menghitung bahwa dengan Rp 15.000 sampai Rp 18.000, kita sudah bisa menyediakan makanan bergizi sesuai Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan,” papar Budi.
Dia memberi ilustrasi, bila sekali makan membutuhkan Rp 15.000, maka dalam 25 hari sekolah akan ada penghematan sebesar Rp 375.000 per bulan.
Angka yang tampak sepele akan jadi fantastis jika diakumulasikan secara nasional per tahun. Dengan siswa jumlah mulai dari SD, SMA, atau SMK yang mencapai 44,2 juta pelajar, maka akumulasi penghematan dalam setahun mencapai Rp 198,9 triliun.
“Bisa kita hitung cepat, dengan mempertimbangkan beberapa faktor lain, agregat penghematan biaya rumah tangga bisa mencapai Rp 200 triliun. Ini baru siswa sekolah formal, belum termasuk santri dan yang lainnya. Ini penggerak ekonomi baru,” jelas Budi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




