"Ganti Presiden" Panaskan Debat Pilgub Jabar
Senin, 14 Mei 2018 | 23:25 WIB
Depok - Debat Ppublik kedua calon gubernur Jawa Barat di Balairung Universitas Indonesia, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (14/5) berujung dengan kericuhan. Kericuhan dipicu saat calon gubernur (cagub) nomor urut tiga Sudrajat menyebut bahwa jika pasangan nomor tiga menang maka Insya Allah pada tahun 2019 kita ganti presiden. Setelah pernyataan Sudrajat, cawagub nomor tiga Akhmad Syaikhu membentangkan kaos bertuliskan "2018 Asyik Menang 2019 Ganti Presiden".
Perkataan Sudrajat dan aksi Syaikhu sontak menyulut emosi para pendukung pasangan calon nomor urut dua yakni TB Hasanudin dan Anton Charliyan yang berasal dari PDI Perjuangan yang juga merupakan partai pengusung Presiden Republik Indonesia saat ini Joko Widodo. Hal ini diungkap Sudrajat saat menyampaikan kata penutup dalam sesi terakhir Debat Publik Pilgub Jabar.
Suasana sontak memanas dan terjadi adu mulut hingga nyaris adu jotos antara dua simpatisan pendukung pasangan calon nomor urut dua dan tiga. Tampak diantaranya Ketua DPRD Kota Depok Hendrik Tangke Allo yang terlihat sangat emosi atas perkataan Sudrajat.
Aparat polisi dan polwan langsung turun tangan melerai dan mendamaikan adu mulut para pendukung cagub. Kapolresta Metro Depok Kombes Pol Didik Sugiarto pun ikut turut serta mendamaikan para pendukung yang berseteru.
Sesi debat sempat terhenti cukup lama hingga Cagub nomor urut empat Deddy Mizwar belum sempat menyampaikan kata penutup. "Ini tidak pada tempatnya. Ini Pilgub bukan Pilpres!"teriak seorang simpatisan paslon nomor urut dua dengan penuh kekesalan.
Hal senada juga diungkap simpatisan paslon nomor urut satu yang menilai apa yang dikatakan cagub nomor urut tiga merupakan suatu hal yang tak seharusnya dikatakan. "Parah sih. Ini kan Pilgub bukan Pilpres. Ngapain dia ngomong begitu," kata pendukung Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum ini.
Keributan terjadi selama lebih kurang selama 30 menit. Hingga akhirnya Cagub nomor urut dua yakni TB Hasanudin turun tangan menenangkan emosi para pendukung dari PDI Perjuangan ini.
"Tolong semua kader harap tenang. Jangan terpancing perkataan perkataan yang berujung teror. Jangan lakukan pelanggaran hukum. Kita serahkan ini kepada Ketua KPU Provinsi Jawa Barat dan Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Barat," ujar Kang Hasan dari atas panggung debat.
TB Hassanudin mengatakan bahwa paslon nomor urut tiga tak memahami aturan dan tata tertib yang telah diterapkan dalam debat. "Mohon dimengerti. Mungkin beliau tidak memahami aturan yang telah ditetapkan," ujar Kang Hasan.
Setelah mendengar imbauan dari cagub yang mereka dukung, massa pendukung pun mulai tenang dan mereda. Perlahan massa membubarkan diri dan berangsur pulang.
Ketua KPU Provinsi Jawa Barat Yayat Hidayat menyesalkan adanya insiden ini. Yayat mengaku KPU besok akan menggelar rapat bersama Bawaslu untuk membahas hal ini. "Kami akan evaluasi dengan Bawaslu. Bagaimana penilaian Bawaslu. Kami akan kaji. Sejak awal kami sudah beritahu berkontestasi sesuai apa yang ditetapkan yakni tentang lingkungan hidup. Ini sudah melenceng dari tema," tutur Yayat.
Dia mengungkapkan bahwa kegiatan debat ini sudah diseting tidak hanya oleh KPU tapi juga didiskusikan bersama paslon. "Kalau situasinya kayak begini. Ini mencederai demokrasi. Harusnya demokrasi damai. Kalau seperti ini ya mencoreng lah," ujar Yayat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




