Banyak Libur Bikin Produktivitas Babak Belur
Kamis, 30 Mei 2024 | 10:26 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pada Jumat (24/5/2024) Jakarta kembali terasa lengang. Lalu lintas di kawasan Sudirman yang biasanya dipadati kendaraan tiba-tiba kosong. Hal ini seiring dengan pemberlakukan cuti bersama seusai libur Hari Raya Waisak, Kamis (23/5/2024).
Libur dan cuti bersama yang jatuh pada Kamis dan Jumat membuat banyak masyarakat mengambil kesempatan untuk berlibur. Ini menjadi long weekend kedua pada Mei 2024, setelah dua pekan sebelumnya, masyarakat juga mendapatkan libur dan cuti bersama berkaitan dengan Kenaikan Yesus Kristus, Kamis (9/5/2024).
Mengacu Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama (Menag), Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor: 855 Tahun 2023, Nomor: 3 Tahun 2023, dan Nomor: 4 Tahun 2023 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024, sepanjang 2024 jumlah libur nasional sebanyak 17 hari dan cuti bersama 10 hari. Jumlah libur dan cuti bersama sepanjang 2024 sebanyak 27 hari atau hampir satu bulan penuh. Bahkan, jika digabung dengan Sabtu dan Minggu (104 hari) sepanjang 2024, maka waktu kerja efektif masyarakat Indonesia sepanjang 2024 hanyalah 235 hari atau 64% dalam setahun.
Banyaknya libur di Indonesia berdampak pada menurunnya produktivitas pekerja. Data Asian Productivity Organization Databook 2023 menunjukkan tingkat produktivitas pekerja Indonesia jika dibandingkan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) berada pada angka US$ 26.300 per pekerja. Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata produktivitas pekerja di Asia Tenggara (ASEAN) sebesar US$ 27.800.
Di kawasan ASEAN, produktivitas pekerja Indonesia kalah dibanding Singapura (US$ 175.900), Malaysia (US$ 60.900), dan Thailand (US$ 33.000). Sebagai perbandingan, jumlah libur di Singapura sepanjang 2024 sebanyak 11 hari, Malaysia 21 hari, dan Thailand 16 hari.
Kebijakan libur dan cuti bersama yang terlalu panjang dalam setahun juga membuat dunia usaha terganggu. Hal itu tecermin pada penjualan otomotif yang turun tajam saat cuti bersama karena terjadi penurunan produksi dan pengiriman unit ke dealer.
Misalnya pada April 2024, ketika pemerintah menetapkan libur dan cuti bersama Idulfitri 2024 selama 10 hari (ditambah Sabtu dan Minggu), data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil secara wholesales (pengiriman pabrik ke dealer) turun 35% secara bulanan (month to month/mtm) menjadi 48.637 unit dari sebelumnya 74.274 unit.
Secara tahunan (year on year/yoy), penjualan mobil terpangkas 17% dari 58.981 unit. Sementara itu, angka penjualan motor pada April 2024 mengacu data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) juga merosot 28% secara bulanan menjadi 419.136 unit.
Fakultatif
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah merespons polemik mengenai libur panjang 27 hari dalam setahun. Ketika ditanya apakah pemerintah akan mempertimbangkan pengurangan jumlah libur panjang di Indonesia, Ida hanya tersenyum.

“Libur dan cuti bersama adalah keputusan bersama antara menteri agama, menteri PANRB, dan menteri ketenagakerjaan,” kata Ida saat ditemui seusai rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Senin (20/5/2024).
Menurut Ida, kebijakan hari libur nasional bersifat wajib karena biasanya terkait dengan hari raya keagamaan. Libur ini ditetapkan sebagai bentuk toleransi antarumat beragama.
Sementara itu, dia menegaskan bahwa cuti bersama adalah kebijakan opsional yang diberikan oleh pelaku usaha kepada pekerjanya.
“Terkait dengan cuti, saya kira cuti ini sifatnya fakultatif. Jadi dikembalikan kepada kesepakatan bersama di internal perusahaan,” ungkapnya.
Selain itu, Ida menilai kebijakan libur panjang yang mencakup libur nasional dan cuti bersama sebenarnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya bidang pariwisata.
“Para pekerja atau masyarakat Indonesia banyak menggunakan kesempatan berlibur untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata,” kata Ida.
Dampak Negatif pada Banyak Sektor
Anggota Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hariyadi Sukamdani, menilai libur yang terlalu banyak berdampak pada menurunnya produktivitas pekerja. Hariyadi mengungkapkan banyak sektor usaha yang mengalami dampak negatif akibat libur panjang tersebut.
“Dilihat secara nasional, libur panjang ini sering terjadi dan ternyata sangat menurunkan produktivitas di banyak sektor. Misalnya, kegiatan perbankan. Jika perbankan ikut libur atau cuti bersama, pasti akan menurunkan produktivitas dalam pengurusan transaksi keuangan. Akhirnya, menjadi lebih lambat,” katanya kepada Beritasatu.com, beberapa waktu lalu.
Kebijakan tersebut juga berimbas pada sektor lain, seperti manufaktur, jasa logistik kargo, dan jasa konsultan. Hariyadi menilai penundaan layanan ini tidak hanya terjadi di perusahaan swasta, juga pada pelayanan publik karena aparatur sipil negara (ASN) pada sejumlah dinas pemerintahan juga libur.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




