ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kelas Menengah, Mesin Ekonomi yang Terlupakan

Rabu, 13 Agustus 2025 | 08:43 WIB
SM
SM
Penulis: Salman Mardira | Editor: SMR
Pengunjung berjalan melintasi instalasi produk kebaya pada pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (7/8/2025). Sebanyak 362 UMKM binaan Bank Indonesia mengikuti KKI 2025 secara luring yang berlangsung hingga 10 Agustus 2025 dengan tema
Pengunjung berjalan melintasi instalasi produk kebaya pada pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (7/8/2025). Sebanyak 362 UMKM binaan Bank Indonesia mengikuti KKI 2025 secara luring yang berlangsung hingga 10 Agustus 2025 dengan tema "Inovasi dan Sinergi: Kunci Penguatan Peran UMKM sebagai Motor Penggerak Ekonomi Berkelanjutan". (Antara/Dhemas Reviyanto)

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah harus menambah stimulus yang menyasar langsung kalangan masyarakat menengah (middle class) untuk mendongkrak daya beli. Kelompok ini memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas dan pemulihan ekonomi. Namun, mereka sering luput dari kebijakan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi selama ini tidak begitu terasa dampaknya ke masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis, perekonomian Indonesia tumbuh 5,12% secara nasional pada kuartal II 2025. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.947 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.396 triliun pada kuartal II 2025. Jika dibandingkan dengan kuartal I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 4,04%.

Pemerintah mengatakan pertumbuhan ekonomi 5,12% dampak dari stimulus ekonomi senilai Rp 24,4 triliun yang digelontorkan pada kuartal II 2025, berupa lima paket kebijakan, yakni diskon tarif tol, diskon biaya transportasi umum, penebalan bantuan sosial (bansos), bantuan subsidi upah (BSU), dan diskon iuran jaminan kecelakaan kerja (JKK).

ADVERTISEMENT

“Stimulus pemerintah yang angkanya Rp 24,4 triliun yang kita gelontorkan untuk disposable income atau pemasukan untuk mendorong konsumsi masyarakat,” kata Tenaga Ahli Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Dedek Prayudi di Jakarta, Rabu (6/8/2025).

Infografik sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dan jumlah kelas menengah. - (Beritasatu.com/Rio Siswono)
Infografik sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dan jumlah kelas menengah. - (Beritasatu.com/Rio Siswono)

Menurut data BPS, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 sebagian besar dipengaruhi oleh kenaikan investasi sebesar 6,99% dengan sumbangsih ke pertumbuhan 2,06% serta ekspor barang dan jasa yang tumbuh 10,6% dengan kontribusi 2,43%. Ekspor dikurangi impor barang dan jasa tumbuh 11,65% dengan sumbangsih 2,21% terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, konsumsi rumah tangga 4,97%, masih di bawah rata-rata sebelum pandemi Covid-19 yang selalu di atas 5%.

Stimulus Kelas Menengah

Pemerintah perlu memperkuat kebijakan fiskal untuk mendorong konsumsi masyarakat atau rumah tangga di atas 5% dengan menggenjot daya beli kelas menengah agar pertumbuhan ekonomi lebih terasa dampaknya di masyarakat. Misalnya, dengan memberi stimulus insentif pajak, kemudahan kredit usaha, menambah bantuan subsidi pendidikan, kesehatan, transportasi, belanja produk lokal, penguatan program pelatihan dan peningkatan keterampilan, memberi perlindungan sosial berkelanjutan, dan lainnya.

Kelas menengah merupakan tulang punggung konsumsi domestik yang harus diperhatikan. Mereka juga kontributor utama daya beli masyarakat, penopang penerimaan pajak negara, pendorong pertumbuhan UMKM, penopang stabilitas sosial, politik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurut data BPS, jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia semakin menyusut dalam 5 tahun terakhir. Pada 2019, terdapat 57,33 juta orang kelas menengah. Namun, angkanya menurun menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Penurunan kelas kelompok ini sangat memengaruhi daya beli.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pemerintah dapat mempertimbangkan pemberian insentif tambahan bagi kelas menengah yang sangat rentan terdampak kondisi ekonomi global dan domestik. Stimulus itu bisa berupa diskon pajak, subsidi energi tambahan, atau bantuan sosial bersifat temporer untuk menjaga daya beli di tengah tekanan ekonomi.

“Langkah ini menjadi penting, untuk menopang konsumsi yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional, terlebih dengan ancaman tekanan inflasi harga pangan global akibat dinamika geopolitik dan cuaca ekstrem,” kata Josua.

Infografik pertumbuhan ekonomi Indonesia dan konsumsi rumah tangga. - (Beritasatu.com/Rio Siswono)
Infografik pertumbuhan ekonomi Indonesia dan konsumsi rumah tangga. - (Beritasatu.com/Rio Siswono)

Josua menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2025 diperkirakan moderat, sedangkan sepanjang tahun diprediksi berkisar 4,7% sampai 5,1%. Pada paruh kedua 2025, investasi diharapkan tetap kuat didorong oleh kejelasan kebijakan perdagangan dan berlanjutnya proyek-proyek infrastruktur besar, seperti MRT Jakarta, proyek perumahan, serta pembangunan kawasan industri di berbagai wilayah di Indonesia. Namun, risiko global, seperti gejolak geopolitik, terutama perang dagang AS-China dan konflik di Timur Tengah, pelemahan perdagangan dunia, hingga fluktuasi harga komoditas masih menjadi tantangan. 

Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan masyarakat kelas menengah merupakan mesin penggerak konsumsi, penyumbang pajak yang taat, dan simbol impian kemajuan bangsa. Namun, mereka rentan terjepit. Oleh karena itu, penting untuk menjaga daya beli mereka karena apabila anjlok maka bisa berdampak buruk bagi kehidupan ekonomi.

Menurutnya, faktor terbesar yang melemahkan daya tahan ekonomi kelas menengah, adalah jurang pemisah yang menganga antara laju kenaikan biaya hidup riil dengan pertumbuhan pendapatan mereka. Berdasarkan data BPS, inflasi Juli 2025 mencapai 2,37%. Namun, pos-pos pengeluaran krusial kelas menengah, seperti pendidikan dan kesehatan mencetak inflasi tinggi, masing-masing 5,8% dan kesehatan 4,9%.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon