Curhat Pemulung Asli yang Terkena Imbas Fenomena Manusia Gerobak
Sabtu, 8 Maret 2025 | 05:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Ramadan seharusnya menjadi bulan penuh berkah, tetapi bagi Anton, seorang pemulung yang sudah bertahun-tahun hidup di jalanan, bulan suci ini justru membawa tantangan baru. Bukan hanya persaingan mencari barang bekas yang semakin ketat, tetapi juga stigma yang melekat padanya akibat maraknya manusia gerobak musiman.
Setiap tahun, ketika bulan puasa tiba, fenomena manusia gerobak semakin banyak terlihat di jalanan ibu kota. Mereka datang bukan sekadar mencari barang rongsokan, tetapi lebih banyak berharap pada belas kasih masyarakat yang dermawan di bulan penuh ampunan ini.
"Kalau belum bulan puasa, masih mending, tetapi kalau sudah masuk Ramadan, pemulung musiman menjamur banget. Ini yang merusak citra kita. Jadi kita yang kena sasaran dari petugas,” ujar Anton, Jumat (7/3/2025).
Anton menyebut banyak dari manusia gerobak ini yang sebenarnya bukan pemulung. Mereka membeli gerobak hanya untuk keperluan musiman, membawa serta anak, istri, bahkan orang tua demi mendapatkan simpati dan lebih banyak sedekah.
"Mereka beli gerobak cuma buat modus. Ada yang bawa anak, istri, ibu, biar dikasihani. Padahal bukan pemulung asli,” kata Anton dengan nada kecewa.
Sebagai pemulung asli, Anton telah lama menggantungkan hidupnya dari mengais barang bekas. Sebelumnya, ia sempat bekerja sebagai koordinator keamanan, satpam, hingga mengamen, tetapi jalan hidup membawanya kembali ke dunia pemulung.
Meski tinggal di jalanan, Anton memiliki keluarga yang menetap di Jakarta, Surabaya, dan Malang. Namun, ia memilih tidak membebani mereka.
"Anak-anak saya tahu, mereka melarang saya hidup di jalan. Mereka bilang, ‘Pak tinggal sama kita aja’, tetapi saya enggak mau nyusahin mereka,” ucapnya lirih.
Sehari-hari, Anton memulai aktivitas sejak subuh, menyusuri jalanan ibu kota demi mengumpulkan barang-barang bekas yang masih bisa dijual.
Sebagai keturunan Ambon, Anton kerap merasa tersisih. Tidak jarang ia mendapat komentar pedas dari orang-orang yang mengenalnya, bahkan dari sesama warga keturunan Ambon.
"Saya malu kadang dilihat orang. Orang Ambon kan tinggi-tinggi (kariernya). Saya dibilang bikin malu Ambon, tetapi apakah salah kalau saya susah?” ujarnya.
Selain merasa tersaingi oleh manusia gerobak musiman, Anton juga menyoroti kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap nasib pemulung asli seperti dirinya.
Meski hidupnya penuh keterbatasan, apalagi saat bulan Ramadan ketika manusia gerobak semakin marak, Anton masih menyimpan harapan. Apabila memiliki modal, ia ingin berdagang agar tidak lagi bergantung pada hasil mulung.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




