Obligasi Bisa Menjadi Sarana Simpan Devisa Hasil Ekspor
Selasa, 6 Desember 2022 | 10:23 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyarankan agar pemerintah menerbitkan obligasi sebagai sarana menyimpan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dana milik orang Indonesia di luar negeri. Obligasi tersebut bisa digunakan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) untuk pembiayaan ekspor.
Ekonom senior Indef Aviliani mengatakan dengan obligasi yang menawarkan bunga tertentu, penggunaan dana investor lebih tertata, dibanding "diparkir" di luar negeri. "Saya rasa itu jadi lebih baik, dibandingkan insentif nanti uangnya gak tahu lari ke mana. Namun kalau ke LPEI ini jelas karena dalam bentuk dolar dan dia akan pinjamkan lagi dalam bentuk mata uang itu. Tidak hanya tergantung dari moneter sehingga bunga gak naik terus," ucap Aviliani dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2023 "Mengelola Ketidakpastian Ekonomi di Tahun Politik" pada Senin (5/12/2022).
Dengan meningkatnya jumlah DHE, pemerintah bisa meningkatkan ketahanan ekonomi domestik terhadap perekonomian global. Pasalnya, perekonomian 2023 akan berhadapan dengan tantangan inflasi dan kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat. Hal tersebut harus diantisipasi tidak hanya secara moneter, tetapi berjalan sinergis dengan kebijakan fiskal.
"Isu yang kita hadapi tahun depan adalah inflasi dan suku bunga. Menurut saya Bank Indonesia sudah bekerja secara optimal. Tidak lagi menaikkan suku bunga acuan, tetapi lebih ke fiskal. Bagaimana DHE bisa masuk ke Indonesia," kata Aviliani.
Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong pihak perbankan agar memberikan kebijakan khusus terkait suku bunga terhadap eksportir yang menempatkan DHE di dalam negeri. Langkah ini dilakukan agar para eksportir bisa menyimpan DHE di Indonesia. "Ini persoalannya klasik, selalu eksportir mengatakan di luar negeri mereka mendapat bunga 3%, sedangkan di Indonesia tingkat bunga untuk penempatan dolar AS itu relatif masih over the counter," ujar Airlangga.
Menurut Airlangga dengan kondisi Indonesia surplus neraca perdagangan selama 30 bulan berturut-turut seharusnya Indonesia memiliki jumlah devisa tinggi. Selama surplus 30 bulan berturut-turut, rata-rata setiap bulan surplus US$ 5 miliar. Namun surplus tersebut belum berdampak ke cadangan devisa. Mengutip data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Oktober 2022 mencapai US$ 130,2 miliar, meski sedikit turun dibandingkan akhir September 2022 sebesar US$ 130,8 miliar.
"Kalau kita lihat 30 bulan berturut-turut trade kita rata-rata tiap bulan surplus US$ 5 miliar. Namun cadangan devisa kita sedikit mandeg. Jadi kita masih punya PR (pekerjaan rumah) untuk memperdalam sektor ekonomi yang terkait dolar," kata Airlangga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




