ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Inikah Tanda-tanda Mulai Terjadi Window Dressing?

Minggu, 18 Desember 2022 | 07:46 WIB
JM
FB
Penulis: Jauhari Mahardhika | Editor: FMB
Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta.
Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal)

Saham-saham blue chip pun diburu. Hal itu tampak pada indeks LQ45 yang naik signifikan 0,94% pada perdagangan Jumat (16/12/2022). Kenaikan itu langsung mendongkrak performa indeks LQ45 secara year to date (ytd) menjadi tumbuh 2,1%.

Bahkan kenaikan yang lebih tinggi terjadi pada indeks IDX30 sebesar 1,03%, sehingga performanya secara year to date langsung positif (0,01%).

Penguatan saham-saham blue chip pada Desember diyakini sebagai salah satu tanda fenomena window dressing, yang turut mengerek IHSG. Terlebih, pergerakan indeks LQ45 dan IDX30 yang kerap menjadi portofolio pilihan manajer investasi mulai menguat signifikan, disertai dengan besarnya volume transaksi.

Seperti diketahui, para manajer investasi adalah salah satu pihak yang getol melakukan window dressing, sebuah strategi untuk mempercantik performa portofolio sebelum disajikan kepada klien atau pemegang saham.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, kalangan analis mengungkapkan bahwa fenomena window dressing di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi mulai terjadi pada pekan ketiga Desember 2022, terutama setelah the Fed mengumumkan kebijakan suku bunga acuan. IHSG pun diyakini kembali tren menguat.

"IHSG akan kembali rally ke level 6.900-7.000," kata Direktur Equator Swarna Capital, Hans Kwee kepada Investor Daily.

Sementara itu, dari sisi domestik, Hans mencermati tidak ada sentimen negatif yang signifikan, kecuali dari saham teknologi yang diprediksi tren penurunannya segera berakhir, seiring kebijakan the Fed yang diharapkan tidak lagi menaikkan suku bunga acuan secara agresif.

"Jadi, saya perkirakan window dressing kemungkinan tidak akan naik banyak karena pasar sedang tidak banyak katalis. Paling kuat 5%. Karena itu, IHSG sampai akhir tahun ini bisa ke level 6.950 sampai 7.000. Rasanya berat kalau lebih dari 7.000 karena ancaman resesi global masih ada, walaupun data-data dalam negeri tidak ada masalah," ujarnya.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon