ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Harga SUN Pekan Ini Diramal Turun, Yield 10 Tahun Menuju 6,8%

Minggu, 26 Februari 2023 | 21:21 WIB
ZS
WP
Penulis: Zsazya Senorita | Editor: WBP
Ilustrasi obligasi
Ilustrasi obligasi (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com- Harga SUN atau Surat Utang Negara pekan ini diprediksi akan melanjutkan penurunan dengan kenaikan imbal hasil (yield) 10 tahun ke kisaran 6,7-6,8%. Yield ini terpantau masih naik dalam 2 pekan terakhir, dari kisaran 6,6% sampai 6,7%.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menyebutkan, tekanan terhadap pasar surat utang masih akan berlanjut. Pekan lalu, harga surat berharga negara (SBN) di Indonesia turun dengan yield global di kisaran 6,7%. "Kalau saya lihat pekan ini di global, tekanan terhadap potensi penurunan harga juga cukup terbuka. Dalam arti yield akan ada kemungkinan naik sedikit," jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (26/2/2023).

Namun kenaikan yang Ramdhan maksud, diproyeksikan terbatas dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan potensi kenaikan suku bunga dari sentimen global, yang membuat kekhawatiran pasar kembali meningkat. Pergerakan harga dan imbal hasil juga diprediksi ikut membatasi aliran dana masuk (inflow) ke pasar SBN dibandingkan beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

"Namun penurunan ini juga terbatas karena memang pasar masih didukung dengan likuiditas yang sangat baik. Cuma dengan kondisi seperti ini, potensi investor masuk ke pasar Indonesia mengecil sehingga menurunkan likuiditas yang ada di pasar," sambung Ramdhan.

Perkiraan kecilnya dana asing yang masuk ke pasar SBN pekan ini, menurut Ramdhan nanti akan turut memengaruhi minat investor domestik sehingga mengoreksi likuiditas instrumen investasi ini.

Namun dalam waktu yang sama, ia meyakini pekan ini belum akan terjadi aliran dana keluar (outflow) dari investor asing. Sebab, investor global dianggap masih menjajaki pasar Indonesia ketidakstabilan pasar global. Pasar SBN Indonesia dinilai masih menarik karena memberikan imbal hasil yang kompetitif.

Hal ini didukung pernyataan Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto. Menurutnya, pasar obligasi Indonesia sangat resilient dibandingkan negara-negara lain. Hal ini terbukti dari inflasi global yang tinggi pada pertengahan 2022 dan membuat the Fed serta bank sentral lain menaikkan suku bunga, tetapi bond yield Indonesia tidak naik banyak.

"Menariknya, dari perbandingkan kenaikan yield di Indonesia sepanjang 2022 tercatat hanya 52 bps, sedangkan rata-rata emerging market mencapai 130 bps," ujar Handy beberapa waktu lalu.

Dia menyebut, pergerakan yield obligasi di hampir semua negara naik. Artinya kenaikan bond yield pada 2022 bukan karena negatif dari domestik, melainkan lebih dari faktor global karena hampir semua negara lain mengalami kenaikan.

Selain disebabkan suku bunga The Fed, penurunan harga SUN juga ikut terpengaruh pelemahan mata uang karena rupiah kembali naik ke atas Rp 15.000. Hal ini dipandang membuat ketidakstabilan pasar meningkat. "Inflasi di global juga masih tinggi," sambung dia.

Untuk saat ini, Ramdhan pun merekomendasikan investor ritel untuk memilih SBN dengan tenor 10 tahun karena dinilai memberikan imbal hasil yang lebih menarik.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon