Pelajaran Apa yang Bisa Diambil dari Kolapsnya Silicon Valley Bank?
Sabtu, 18 Maret 2023 | 08:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kejatuhan dua bank di Amerika Serikat, Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank, dalam waktu berdekatan pekan lalu menimbulkan kekhawatiran para nasabahnya, terutama mengenai keamanan simpanan mereka.
Pasalnya di Amerika Serikat berlaku batas penjaminan simpanan oleh FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation) sebesar US$ 250.000 atau Rp 3,75 miliar (dengan kurs Rp 15.000/US$ 1). Yang menjadi masalah, banyak nasabah yang memiliki dana simpanan di atas plafon tersebut. Sehingga dikhawatirkan uang mereka tidak akan kembali karena tidak sesuai dengan syarat/kriteria penjaminan.
Lantas pelajaran apa yang bisa dipetik nasabah di Indonesia dari kasus di atas demi mencegah terdampak kondisi serupa?
Hendry Lieviant, CEO Komunal, perusahaan fintech yang mendigitalisasi BPR, menjelaskan pelajaran terpenting yang bisa diambil dari kejadian ini adalah betapa pentingnya untuk memperhatikan aturan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sebagai lembaga yang menjamin simpanan nasabah di bank di Indonesia. Karena besarnya aset sebuah bank tidak dapat dijadikan dasar yang paling utama.
"Ini terbukti pada bank besar yang jatuh di AS kemarin memiliki aset hingga ribuan triliun rupiah, namun bisa kolaps dalam waktu 48 jam. Sebaliknya, menabung di bank lebih kecil belum tentu berisiko tinggi asalkan tabungan dan deposito kita dijamin oleh LPS," urai Hendry dalam keterangan yang dikutip, Sabtu (18/3/2023).
Untuk itu Hendry menjabarkan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengamankan simpanan kita di bank sebagai yaitu: Pertama, pastikan suku bunga yang kita terima dari bank sudah sesuai dengan suku bunga yang dijamin oleh LPS di mana saat ini suku bunga yang dijamin pada bank umum adalah sebesar 4,25% dan untuk bank BPR sebesar 6,75%. "Karena jika kita menerima bunga melebihi bunga yang dijamin oleh LPS maka seluruh simpanan kita, baik pokok dan bunganya, tidak akan dijamin LPS,’’ paparnya.
Kedua, pastikan total simpanan kita di bank tidak melebihi dari jumlah yang dijamin oleh LPS yaitu sebesar Rp 2 miliar per nasabah per bank. Ketiga, pastikan bank tempat kita menempatkan deposito adalah bank peserta LPS.
Dengan memperhatikan ketiga faktor tersebut menurut Hendry maka simpanan nasabah di bank akan relatif lebih aman.
Adapun jika nasabah ingin mendiversifikasi investasi selain deposito di bank umum, sejumlah instrumen lain dapat menjadi pilihan, di antaranya obligasi, reksa dana dan deposito BPR.
Obligasi merupakan jenis sekuritas utang yang menawarkan tingkat pengembalian tetap selama periode waktu yang ditentukan. Obligasi umumnya dianggap lebih rendah risiko daripada saham.
Selanjutnya reksa dana. Instrumen investasi ini menawarkan pilihan investasi yang terdiversifikasi dengan biaya relatif rendah dan risiko yang bervariasi tergantung oleh underlying dan strategi investasi reksa dana tersebut.
Nah terakhir, namun yang juga sangat menarik menurut dia adalah berinvestasi di deposito bank BPR. Deposito BPR memang relatif belum terlalu populer dibandingkan ketiga instrumen sebelumnya. "Namun, ini sekaligus merupakan salah satu instrumen investasi yang menarik. Sebabnya, deposito BPR memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari bank umum, yakni hingga 6,75% per tahun namun sekaligus aman karena dijamin LPS," tegas Hendry.
Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul Berkaca dari Keruntuhan SVB, Ini Cara Mitigasi Investasi di Perbankan
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




