VKTR Teknologi Akan Bangun PLTB 5 Gigawatt dan Sumur Gas
Rabu, 29 Maret 2023 | 19:22 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Entitas anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berskala 5 giga watt dalam lima tahun ke depan.
CEO VKTR Gilarsi W. Setijono menjelaskan bahwa terobosan perseroan untuk mencoba memaksimalkan potensi angin ini muncul seiring dengan kesadaran Grup yang selama 80 tahun terakhir mencetak 80% pendapatannya berbasis hidrokarbon.
Karenanya, pada saat Grup berusia 100 tahun nanti, 80% pendapatan yang berbasis hidrokarbon itu harus bergeser menuju green. Determinasi inilah, ungkap Gilarsi, perseroan kemudian menjajaki potensi-potensi salah satunya energi angin.
Sebab, pemanfaatan batu bara sebagai sumber listrik EV menjadi salah satu isu saat ini lantaran dianggap hanya memindahkan emisi karbon ke pelosok-pelosok provinsi.
"Maka dalam lima tahun ke depan, kita berencana membangun 5 gigawatt power plant yang basisnya adalah angin," ucap Gilarsi di acara bertajuk ‘Strategi Mencapai Target Investasi 2023 dengan Mendorong Hilirisasi’ yang disiarkan langsung B-TV, Rabu (29/3/2023).
Menurut dia, angin tidak bisa berdiri sendiri, tetapi juga perlu ditopang dengan penutup yang irit emisi karbon seperti gas. Maka dari itu, di samping membangun PLTA, perseroan akan membangun sumur gas di suatu tempat.
"Angin dan gas ini bisa kita kombinasikan yang akhirnya menghasilkan greener energy. Tidak komplit green, tetapi greener energy," imbuhnya.
Jual 52 Unit Transjakarta
Sebagai emiten yang bergerak di elektrifikasi transportasi, Gilarsi menyampaikan, sampai sekarang perseroan telah berhasil menjual sebanyak 52 unit kendaraan kepada Transjakarta yang tentu diharapkan akan terus bertambah ke depannya.
Sementara data BPS tahun 2020 menyebut, populasi kendaraan yang harus digantikan dengan electric vehicle (EV) mencapai 136 juta yang terdiri dari 115 sepeda motor, 15 juta mobil penumpang, 5 juta mobil barang, dan 233.000 mobil bus yang semuanya memiliki tingkat rate adoption yang rendah.
Artinya, kata Gilarsi, ruang bagi perseroan untuk bisa mengisi EV itu luar biasa besar. Dengan demikian, jika mulai hari ini investor berinvestasi baik di riset, industri, atau apapun, maka tidak ada istilah terlambat.
"Jadi, ini ruang yang luar biasa besar di luar misi-misi mulia kita mengenai climate action, dekarbonisasi dan seterusnya. Lifetime cost dari kendaraan EV dibandingkan combustion itu sebagaimana diperbandingkan Kemenko Marves bahwa Corolla dibandingkan Hyundai Iconic secara keseluruhan value-nya kalau dihitung 10 tahun, lebih murah Hyundai Iconic," tutur Gilarsi.
Kemudian, jika membandingkan dengan produk di bawahnya seperti Agya dengan Wuling Air misalnya, maka lifetime cost-nya Agya lebih signifikan dibandingkan dengan Wuling Air. Begitu juga dengan Scoopy dibandingkan motor Gesits, maka harga Gesits merupakan setengahnya dibandingkan kendaraan berbasis combustion engine.
"Jadi, artinya EV itu promising baik secara ekonomi dan promising secara carbon emission juga sangat promising. Jadi let’s do it," tandas Gilarsi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




