Harga SUN Dipercaya Mulai Menguat Pekan Ini, Cek Pemicunya
Senin, 9 Oktober 2023 | 06:02 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga SUN atau surat utang negara diperkirakan akan menguat atau mengalami apresiasi dalam pekan ini karena imbal hasil (yield) SUN dengan tenor 10 tahun bertahan pada level 7%, dan kemungkinan akan turun ke sekitar 6,9%. Faktor ini dipengaruhi oleh tingginya likuiditas dalam negeri serta minat lembaga keuangan di Indonesia untuk berinvestasi dalam bentuk surat berharga negara (SBN).
Data menunjukkan bahwa yield SBN dengan tenor 10 tahun pada Minggu (8/10/2023) pukul 17.15 WIB mencapai 7,008%. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi awal pekan sebelumnya yang mencapai lebih dari 7,1%, akibat kenaikan tertinggi yield US Treasury.
Menurut Ramdhan Ario Maruto, selaku head of fixed income di PT Anugerah Sekuritas Indonesia, pasar mengalami keterbatasan pada akhir pekan sebelumnya, tetapi harga mulai mencapai stabilitas. Meski ketidakpastian global masih tinggi, terutama terkait kenaikan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) yang sulit diprediksi, likuiditas dalam negeri tetap cukup baik. "Para investor domestik, termasuk perbankan dan lembaga keuangan negara, terus menginvestasikan dana mereka dalam SBN dan SUN," kata dia kepada Investor Daily, Minggu (8/10/2023).
Ramdhan meyakini bahwa investor-investor institusi ini dapat mempengaruhi investor ritel untuk juga berinvestasi dalam SUN dan SBN, sehingga penurunan harga obligasi ini dapat diredam. Meskipun sentimen global masih tidak pasti, Ramdhan menyarankan bahwa saat ini adalah kesempatan baik bagi investor untuk mengakumulasi kembali kepemilikan SUN.
Dia mencatat bahwa yield 10 tahun telah mencapai lebih dari 7%, mencapai level yang jarang terjadi dalam waktu lama, sehingga investor domestik mulai melirik untuk kembali berinvestasi dalam SBN.
Peningkatan signifikan yield US Treasury telah membuat investor domestik mendominasi pasar SBN Indonesia, karena investor asing lebih memilih investasi dalam US Treasury.
Sampai 5 Oktober 2023, sebanyak 29,83% kepemilikan SBN dimiliki oleh perbankan konvensional dan syariah, 16,72% oleh institusi negara seperti Bank Indonesia (BI), dan 53,46% oleh non-bank. Kepemilikan SBN oleh investor domestik melibatkan berbagai sektor, termasuk perbankan, BI, reksa dana, dana pensiun, asuransi, dan investor ritel, yang mencapai total Rp 4,17 triliun. Sementara kepemilikan SBN oleh investor asing pada awal Oktober masih berada di sekitar Rp 819,83 miliar.
Ramdhan menjelaskan bahwa kombinasi kepemilikan yang didominasi oleh investor domestik, terutama perbankan, membuat likuiditas tetap baik. Jika investor domestik dapat terus mengontrol pasar SBN, maka penurunan harga atau kenaikan yield obligasi pemerintah ini diyakini dapat menahan dampak sentimen global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




