ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Antisipasi Suramnya Ekonomi Global, BI Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 6%

Kamis, 19 Oktober 2023 | 15:23 WIB
AK
WP
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: WBP
Perry Warjiyo.
Perry Warjiyo. (Antara/Hafidz Mubarak A)

Jakarta, Beritasatu.com- Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis (19/10/2023) mengungkapkan kenaikan BI suku bunga acuan, yaitu 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%. Selain itu, suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 5,25%, dan suku bunga lending facility naik 25 basis poin menjadi 6,75%.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa peningkatan suku bunga acuan bertujuan untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah mengingat tingginya ketidakpastian global. "Langkah ini juga diambil secara pre-emptive dan forward looking untuk mengatasi dampak inflasi barang impor (imported inflation) sehingga inflasi tetap terkendali sesuai sasaran, yaitu 3,0±1% pada tahun 2023 dan 2,5±1% pada tahun 2024," kata Perry dalam konferensi pers hasil rapat dewan gubernur bulanan Oktober 2023 di Jakarta, Kamis (19/10/2023) dikutip Investor Daily.  

Dia mengatakan kebijakan makroprudensial juga diperkuat melalui implementasi efektif kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) dan penurunan rasio penyangga likuiditas makroprudensial (PLM) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui kredit dan pembiayaan.

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan penurunan rasio PLM sebesar 100 basis poin dari 6% menjadi 5% untuk bank umum konvensional (BUK) dan rasio PLM syariah turun 100 basis poin dari 4,5% menjadi 3,5% untuk bank umum syariah/unit usaha syariah (BUS/UUS) memberikan fleksibilitas pengelolaan likuiditas oleh perbankan dalam penyaluran kredit.

Perry menyebut bahwa penguatan dolar AS memberikan tekanan pada mata uang berbagai negara, termasuk rupiah. Meskipun rupiah mengalami depresiasi sebesar 1,03% sepanjang tahun ini, BI terus berupaya menguatkan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mengendalikan imported inflation dalam situasi ketidakpastian di pasar keuangan global.

"Bank Indonesia juga terus berinovasi untuk memperbaiki efektivitas kebijakan moneter demi menjaga inflasi tetap terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah," kata dia.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon