ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kemenkeu: Dana Asing Keluar Hanya Sementara

Jumat, 7 Oktober 2011 | 18:24 WIB
K
B
Penulis: Ririn Radiawati Kusuma/WBP | Editor: B1
Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah (Antara)
Mereka hanya mau pegang cash lebih banyak, karena khawatir terjadi pengetatan likuiditas.

Kementerian Keuangan (kemenkeu) optimistis dana asing yang keluar dari Indonesia segera kembali. Kekhawatiran Investor dinilai hanya sesaat menyusul krisis di Eropa.

"Mereka hanya mau pegang cash lebih banyak, karena terjadi pengetatan likuiditas," jelas Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Kemenkeu, Rahmat Waluyanto, kepada wartawan di Jakarta, hari ini.

Rahmat mengatakan, hal tersebut hanya bersifat sementara saja dibanding efek yang berkepanjangan. "Pasti nanti akan kembali lagi," lanjut dia.

Dana asing di Indonesia mulai menyusut. Selain ditandai meosotnya cadangan devisa sebesar US$ 10 miliar selama sebulan terakhir, hal ini juga ditandai susutnya kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN).

Kepemilikan asing di SUN hingga 5 Oktober 2011 mencapai Rp 214,10 triliun, menyusut 2 persen dibanding September sebesar Rp 218,09 triliun. Jumlah kepemilikan asing di SUN juga merosot dibandingkan Agustus yang berada pada posisi Rp 247,38 triliun.

Sebaliknya, kepemilikan BI atas SUN melesat dari Rp 3,99 triliun pada Agustus menjadi Rp 17,03 triliun pada September, dan Rp 22,22 triliun pada 5 Oktober. Hal ini menunjukkan BI mengambil intervensi untuk menstabilkan harga SUN dan rupiah.

Rahmat menambahkan, langkah BI membeli SUN dengan cadangan devisa, cukup efektif menstabilkan pasar SUN. "BI membeli SUN di pasar sekunder untuk pengelolaan portofolio aset. Tapi itu berdampak positif pada stabilitas pasar SUN," kata Rahmat.

Sementara itu, pengamat ekonomi Indef, Ahmat Erani Yustika juga mengatakan hal yang serupa. Menurutnya,penarikan dana asing dari Indonesia hanya bersifat sementara. "Kejadian ini potensinya lebih banyak temporer saja, tidak dalam jangka panjang," ujar Erani saat dihubungi hari ini.

Ke depan, Erani mengganggap hal ini adalah momentum yang tepat membersihkan cadangan devisa yang bersumber dari capital inflow. "Kita berharap cadangan devisa itu bersumber dari ekspor, bukan dari sterilisasi capital inflow yang ditempatkan di SBI," ujar dia.


Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon