Budaya "Salam Tempel" Dorong Usaha Jasa Penukaran Uang Receh
Sabtu, 3 Agustus 2013 | 10:47 WIB
Jakarta - Budaya "salam tempel" dalam tradisi Lebaran di Indonesia membuat kebutuhan masyarakat akan uang receh semakin meningkat. Kurang dari sepekan menjelang Lebaran, jasa penukaran uang receh juga semakin menjamur di pinggiran jalan Ibukota, seperti di kawasan Kota Tua, Pondok Indah, hingga Lebak Bulus.
"Hari ini sudah mulai banyak yang menukar. Penjualnya juga mulai ramai. Kalau kemarin-kemarin kan masih pada ngantre di tempat penukaran uang Bank Indonesia di lapangan parkir IRTI Monas. Kemarin itu hari terakhir, makanya sekarang pedagangnya sudah banyak yang turun ke jalan," kata Rohmi, salah satu penjual jasa penukaran uang receh di kawasan Kota Tua, Sabtu (3/8).
Besarnya pecahan uang receh yang disediakan juga beragam. Mulai dari nominal Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 20.000, hingga Rp 50.000. Namun yang paling banyak dicari menurutnya uang pecahan Rp 5.000 dan Rp 10.000. Uang tersebut dikemas rapi dalam bungkus plastik dengan jumlah yang bervariasi.
"Kita ambil untungnya 10% dari nilai nominal yang ditukar. Jadi kalau dia nukar Rp 500.000, kita jualnya Rp 550.000," jelas Rohmi.
Meski cuaca panas dan lalu lintas kendaraan sangat ramai, Rohmi lebih memilih langsung menjajakan uang recehnya di pinggir jalan sambil berdiri.
"Kalau di sini memang lebih panas dan berisiko kena serempet mobil. Tapi pembelinya lebih banyak karena pengendara mobil atau motor tidak perlu turun dari kendaraan mereka," kata dia.
Lain halnya dengan Rosa. Ia lebih memilih menjajakan uang recehnya di trotoar depan Museum Bank Mandiri. "Kalau saya lebih menyasar pembeli yang kebetulan sedang berjalan kaki," kata dia.
Baik Rohmi maupun Rosa mengaku mendapatkan uang recehan tersebut di penukaran uang lapangan parkir IRTI Monas. "Biasanya kita ikut ngantre selama beberapa hari. Kalau enggak begitu, enggak bisa dapat banyak," kata Rosa.
Untuk Lebaran tahun ini, modal yang mereka gelontorkan sekitar Rp 50 juta. "Ada juga yang sampe dapat di atas Rp 50 juta, tergantung lamanya dia menukar uang di monas. Karena dalam sehari palingan hanya bisa dapat Rp 10 juta, itu pun harus minta bantuan beberapa orang karena memang tiap orang ada batas maksimal penukaran," jelasnya.
Keuntungan yang didapat juga lumayan. Tahun lalu misalnya, Rosa bisa meraup untung hingga Rp 5 juta. Jumlah tersebut biasanya akan dibagi bila ia meminta bantuan kerabat untuk berjualan di tempat lain. "Biasanya puncak pembelinya terjadi pada H-3 Lebaran," kata dia.
Meski harus membayar lebih dari nilai uang yang ditukar, tapi menurutnya jasa penukaran uang receh selalu dicari orang. "Kebanyakan mereka tukar dalam jumlah kecil. Kalau di Monas kan sayang sudah antre panjang-panjang, eh cuma nukar Rp 200.000," serunya.
Rosa menjajakan uang recehnya sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Ada juga yang hingga larut malam, khususnya saat malam takbiran.
Untuk melindungi diri dari orang-orang yang berniat jahat, Rosa juga membawa kerabat laki-lakinya untuk menemani. "Uang yang kita pegang kan banyak, jadi sebaiknya harus berhati-hati. Tempat jualannya juga jangan yang sepi agar lebih aman," kata Rosa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




