Banyak Perusahaan yang Keliru Memahami CSR
Sabtu, 28 September 2013 | 16:54 WIB
Jakarta - Pemahaman masyarakat dan juga perusahaan di Indonesia tentang program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR rupanya masih banyak yang keliru. Hal ini disampaikan oleh Jalal, pendiri CSR Indonesia dalam seminar nasional kebencanaan dengan teman "Pembiayaan dalam Penanggulangan Bencana" yang digelar oleh lembaga kemanusiaan dan sosial "Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI)" di Depok, Sabtu (28/9).
Menurut Jalal, beberapa perusahaan masih memahami CSR sebagai promosi perusahaan dan juga pemolesan citra perusahaan. "Kalau mendengar kata CSR, pasti yang dipikirkan pertamakali adalah uang. Sebagian besar juga masih berpikir CSR adalah sumbangan perusahaan," kata dia.
Dijelaskan Jalal, CSR sebetulnya adalah tanggung jawab perusahaan atas dampak yang ditimbulkan, baik itu dampak positif maupun negatif. "Bila dampaknya negatif, perusahaan harus mengetahui seluruh potensinya dan kalau bisa hal itu tidak terjadi atau diminimalisir. Sementara kalau dampaknya positif hendaknya dimaksimumkan sehingga perusahan bisa memberikan hasil positif bagi masyarakat," terang Jalal.
Selain itu, Jalal juga melihat banyak yang menjalankan program CSR untuk tujuan pencitraan. Padahal yang menjadi tujuan utama dari CSR adalah pembangunan berkelanjutan.
"Banyak yang menganggap CSR hanya aspek sosial saja, padahal tidak. Karena tujuannya adalah pembangunan berkelanjutan, tentunya selalu ada aspek ekonomi, sosial, dan juga lingkungan. Sehingga kalau ber-CSR untuk tujuan yang lain, itu namanya bukan CSR," tegasnya.
Dengan begitu, CSR perusahaan bisa berperan lebih banyak dalam menghadapi sebuah bencana. "Ada banyak hal yang bisa dilakukan perusahaan, dan puncaknya adalah disaster preparednes. Seharusnya CSR membuat stakeholder-nya bersiap-siap dalam menghadapi suatu bencana, jadi bukan saat bencana saja," pungkasnya.
Ketika bencana pun, tambah Jalal, banyak hal yang bisa dilakukan CSR perusahan, bukan sekedar menyumbangkan uang dari dana CSR.
"Misalnya perusahaan bisa membuat fundraising yang lebih besar dengan melibatkan seluruh karyawannya atau konsumen, menyumbang produk, mengirim karyawannya menjadi volunteer, atau mengirimkan tim divisi management resiko," papar Jalal.
Bila dia perusaahan asing, perusahaan tersebut juga bisa memberitahu negara asalnya kalau di negara tempatnya beroperasi sedang terjadi sebuah bencana. Dengan begitu, perusahaan tersebut juga bisa menghimpun dana lebih besar lagi.
"Bila ingin memaksimalkan dampak positif dalam sebuah kondisi bencana, membawa sembako lalu ditinggalin itu sangat tidak memadai. Apalagi kalau perusahaan lebih mengedepankan spanduk dan sorotan media," ujar Jalal.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




