Risiko Inflasi Hingga Akhir Tahun Tetap Tinggi
Minggu, 13 Oktober 2013 | 18:38 WIB
Jakarta - Resiko inflasi hingga akhir tahun ini diproyeksi akan tetap tinggi mengingat rendahnya realisasi tingkat belanja modal pemerintah pada akhir September tercatat Rp72,3 triliun atau baru 37,5 % dari pagu yang sebesar Rp192,6 triliun. Hal ini karena pemerintah dinilai masih lebih dominan menciptakan stimulus lewat permintaan dibanding mendorong peningkatan produksi nasional.
Pengamat Ekonomi Dari LPEM UI Mohamad Dian Revindo menjelaskan realisasi belanja pegawai yang tinggi merupakan salah satu bentuk stimulus pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui permintaan atau konsumsi barang dan jasa. Namun realisasi penyerapan belanja modal yang masih sedikit dinilai membuat kemampuan dari sisi produksi akan tertinggal.
"Pemerintah menciptakan permintaan barang dan jasa yang memang akan mendorong pertumbuhan, tetapi kemampuan sisi produksi akan sedikit tertinggal. Kontribusi terhadap pertumbuhan tetap ada, tetapi dengan resiko inflasi yang tinggi," ujar Revindo kepada wartawan di Jakarta akhir pekan ini.
Lebih lanjut Revindo menjelaskan meskipun pada September lalu terjadi deflasi sebesar 0,35%, tetapi secara keseluruhan pada tahun kalender 2013 inflasi telah mencapai 7,57%. Tingginya inflasi tersebut, katanya, salah satunya disebabkan terlambatnya kemampuan produksi, yang mencakup sumberdaya manusia (SDM), teknologi, modal dan ketersediaan lahan terutama dalam merespon permintaan.
Dia juga berpendapat dengan kebiasaan tingginya realisasi belanja pemerintah pada akhir tahun, maka dampaknya terhadap inflasi akan semakin besar lagi. Untuk itu dia berharap pemerintah bisa memperbaiki kualitas penyerapan anggarannya supaya tidak kembali menumpuk diakhir tahun da nbisa mengurangi inflasi.
Menurutnya pemerintah sudah memperhitungkan angka pertumbuhan riil terhadap inflasi, yakni jika targetnya 6,3%, maka berarti tumbuh 6,3% lebih cepat dari inflasinya. Namun pemerintah diharapkan supaya melakukan upaya antisipasi supaya inflasi yang tinggi tidak berdampak negatif pada makin dalamnya jurang kesenjangan pendapatan di masyarakat.
"Secara individu tidak semua orang dan kelompok masyarakat tumbuh pendapatannya tumbuh melebihi tingkat inflasi. Inflasi berbahaya salah satunya karena dapat memperbesar jurang pemerataan," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




