ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kemnakertrans: Instruktur Harus Punya Kemampuan Beradaptasi

Rabu, 23 Oktober 2013 | 19:38 WIB
SH
FB
Penulis: Siprianus Edi Hardum | Editor: FMB
Ilustrasi tenaga kerja Indonesia di pabrik sepatu Nike.
Ilustrasi tenaga kerja Indonesia di pabrik sepatu Nike. (Reuters)

Makassar - Instruktur sebagai salah satu pilar utama dari sistem pelatihan dan pendidikan tenaga kerja yang berkompeten harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan teknologi.

Selain itu, instruktur juga harus memiliki kompetisi di bidangnya, guna mendorong upaya peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.

Demikian dikatakan Abdul Wahab Bangkona. Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans) ini mengatakan itu dalam sambutannya pada acara Grand Final dan Malam Puncak Kompetisi Keterampilan Instruktur IV, Penggerak Swadaya Masyarakat (PSM) dan Pagelaran Lima S Tingkat Nasional Tahun 2013 di Makasar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/10).

Yang dimaksud lima S yakni sisi yaitu menyisihkan barang tidak perlu, susun yakni menyusun barang-barang yang diperlukan, sasap yaitu membersihkan tempat kerja dengan teratur, sosoh yaitu memelihara dan suluh yakni membentuk kebiasaan.

ADVERTISEMENT

Abdul mengatakan, instruktur yang kompeten, baik dari aspek teknis kejuruan dan metodologi pelatihan sangatlah diperlukan untuk dapat mendidik dan melatih calon tenaga kerja yang kompeten, karena tidaklah mungkin akan dapat menghasilkan anak didik yang kompeten apabila instrukturnya tidak kompeten.

Abdul menambahkan, sebagai upaya memotivasi instruktur dan PSM dalam peningkatam kompetensi baik di bidang teknis kejuruan dan metodologi pelatihan, Kemnakertrans melalui Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas menyelenggarakan kompetisi keterampilan instruktur IV tingkat regional dan nasional dan PSM.

Tujuan dari kegiatan ini, kata dia, adalah pertama memberikan dorongan dan kesempatan bagi instruktur, PSM untuk berkompetisi secara posetif dan konstruktif sehingga dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap profesinya dan unit kerjanya. Kedua, meningkatkan pelayanan melalui penerapan lima S sebagai lembaga pelayanan publik.

Ketiga, membina hubungan kerjasama antara sesama instruktur, PSM, dan pengelola pelatihan baik di daerah maupun tingkat pusat sebagai media untuk tukar pengalaman dan informasi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan dunia pelatihan.

Kompetisi keterampilan instruktur IV tingkat nasional, kompetisi penggerak swasdaya masyarakat (PSM) I ketransmigrasian dan pagelaran 5 S dilaksanakan mulai tanggal 20 - 23 Oktober 2013 dengan peserta sebanyak 147 peserta terdiri dari kompetisi instruktur 88 orang peserta.

PSM Ketransmigrasian 24 orang peserta, pagelaran 5 S sebanyak 35 orang peserta. Peserta berasal dari Unit Pelayanan Teknis Pusat (UPTP) - UPTP di lingkungan Ditjen Binalatas dan para pemenang hasil seleksi regional Dinas yang menangani ketenagakerjaan di seluruh Indonesia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon