ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perekonomian RI Termasuk Paling Potensial di Dunia

Senin, 18 November 2013 | 15:03 WIB
RS
WP
Penulis: Ridho Syukro | Editor: WBP
Ilustrasi Transaksi Bisnis dan Pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi Transaksi Bisnis dan Pertumbuhan Ekonomi (Istimewa)

Jakarta- Citi Country Officer Indonesia Tigor Siahaan mengatakan perekonomian Indonesia termasuk dalam kategori perekonomian paling potensial di dunia meskipun dibayangi ancaman global.

Pertumbuhan konsumsi domestik menyusul jumlah penduduk dan kelas menengah yang cukup besar menjadi pemicunya.

"Perekonomian Indonesia adalah perekonomian yang paling potensial karena konsumsi domestik sangat kuat," ujar dia ketika ditemui dalam acara " Citi Annual Capital Market Outlook 2014" Indonesia Economy Challenge and Opportunities" di Hotel Le Meredien, Jakarta, Senin (18/11).

Dia menjelaskan kuatnya pertumbuhan konsumsi domestik di Indonesia membuat pertumbuhan kredit perbankan mengalami kenaikan. "Pertumbuhan konsumsi masyarakat dan kredit perbankan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan," kata dia.

ADVERTISEMENT

Dia menuturkan, kuatnya konsumsi domestik juga memicu investor multinasional menanamkan modalnya sehingga membuat iklim investasi di dalam negeri tumbuh positif.

Sementara soal pemilihan umum (pemilu) pada 2014 mendatang Tigor berpendapat, akan mendongkrak perekonomian Indonesia cukup besar melalui government spending dan consumer spending. Jika pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan fiskal yang bisa menyeimbangkan kepentingan pemilu dan ekonomi, maka perekonomian Indonesia masih tumbuh stabil pada tahun depan.

Tigor mengakui ancaman eksternal khususnya isu the tapering (pengurangan stimulus) yang akan dilakukan Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed pada tahun depan, membuat perekonomian sedikit terganggu, tidak terkecuali pertumbuhan kredit.

Menurutnya, pada tahun depan pertumbuhan kredit diperkirakan tidak bisa tumbuh seperti lima tahun lalu yang mencapai 50 persen. Pertumbuhan kredit diproyeksi hanya mencapai 20-25 persen pada tahun depan.

"Pertumbuhan kredit sebesar 20-25 persen sudah cukup baik, namun pertumbuhannya hanya melambat," ujar dia.

Dia menjelaskan, pelaku usaha khususnya di sektor perbankan meminta pemerintah segera mempercepat pembangunan infrastruktur. Tidak hanya infrastruktur seperti bandara, atau jalan tetapi juga infrastruktur permesinan.

"Jika kualitas infrastruktur di dalam negeri sudah baik, salah satunya biaya ekonomi yang selama ini dikenal sangat tinggi secara perlahan bisa dikurangi," kata dia.

Dia mengatakan, keuntungan lain adalah Indonesia bisa menjadi eksportir yang bernilai tambah. Selama ini Indonesia dibanjiri oleh barang impor untuk kebutuhan investasi, sehingga menyebabkan tingginya defisit neraca transaksi berjalan.

Jika pembangunan kualitas infrastruktur dipercepat khususnya infrastruktur teknologi dan pengolahan, maka barang impor bisa diolah lagi dengan cara baru yang bernilai tambah. Selanjutnya, barang jadi tersebut diekspor kembali dengan kualitas lebih tinggi. "Dengan cara seperti itu, kemungkinan besar defisit neraca transaksi berjalan di Indonesia bisa ditekan," kata dia.

Tigor juga mengatakan, pelaku usaha juga meminta pemerintah tidak hanya mengembangkan sektor manufaktur di Jakarta tetapi di luar Jakarta agar pemerataan ekonomi terwujud dengan memberikan beberapa insentif.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon