BI: Surplus Neraca Perdagangan Bisa Turunkan Defisit Transaksi Berjalan
Selasa, 4 Februari 2014 | 21:21 WIB
Jakarta - Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Hendy Sulistiowaty optimistis defisit transaksi berjalan Indonesia akan turun pada tahun 2014.
Optimisme tersebut muncul karena neraca perdagangan pada bulan Desember 2013 surplus sebesar US$ 1,5 miliar lebih tinggi dibandingkan surplus pada November 2013 sebesar US$ 0,8 miliar.
Menurut dia, Bank Indonesia menilai terus membaiknya neraca perdagangan Indonesia akan mendukung upaya penguatan transaksi berjalan ke arah yang lebih sehat.
"Pada kuartal dua dan tiga neraca perdagangan terus defisit memasuki Desember sudah surplus dan tertinggi sejak 2011," ujar dia dalam acara "Bincang Bincang BI" di Gedung BI, Jakarta, Selasa (4/2).
Hendy mengatakan, surplus terjadi karena kinerja ekspor tumbuh 7,1% month to month menjadi US$ 16,9 miliar melebihi impor yang tumbuh 2,3% month to month menjadi US$ 15,4 miliar, secara tahunan ekspor tumbuh 8,2% sedangkan impor turun 0,5%.
Menurutnya neraca perdagangan non migas pada Desember 2013 surplus US$ 2,4 miliar lebih tinggi dari surplus bulan sebelumnya yang tercatat US$ 2,0 miliar.
Ekspor yang mengalami peningkatan pada Desember 2013 adalah produk primer yang naik 6,7% yoy terutama ekspor minyak dan lemak nabati dengan pangsa 12,3% dan bijih logam dan sisa logam (pangsa 5,6%), di sisi lain ekspor batubara, kokas dan briket serta ekspor karet mentah mengalami penurunan.
Sedangkan ekspor produk manufaktur tumbuh 9,5% yoy didorong oleh kenaikan ekspor mesin dan alat transportasi, produk kimia serta produk semi manufaktur, barang konsumen lainnya pakaian, dan tekstil dengan total pangsa 43,6%.
Dia mengatakan rendahnya ekspor CPO pada Desember 2013 akibat turunnya permintaan dari India, Tiongkok dan Belanda.
Ia memperkirakan pada tahun ini pertumbuhan ekspor akan mengalami peningkatan karena kondisi negara maju sudah membaik.
"Kami tetap optimistis kinerja ekspor pada tahun ini akan naik jika dibandingkan tahun 2013," ujar dia
Hendy menuturkan impor migas desember 2013 tercatat sebesar US$ 11,3 miliar atau turun 4,4% yoy penurunan tersebut disebabkan penurunan impor bahan baku dan bahan penolong dan barang modal.
Penurunan impor bahan baku dan penolong dipengaruhi oleh rendahnya impor suku cadang dan perlengkapan barang modal.
Ia juga optimistis membaiknya neraca perdagangan memberikan multi effect tidak hanya neraca perdagangan namun juga neraca pembayaran.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




