2 Anak Usaha Astra Upayakan Hilirisasi
Sabtu, 12 November 2011 | 22:01 WIB
Keduanya adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Dua anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) tengah menjajaki upaya hilirisasi atau pengolahan di sektor batubara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
"PT Telen Orbit Prima, (unit usaha UNTR) di Kalimatan Tengah sudah melakukan setengah hilirisasi, seperti crushing danwashing," kata Presiden Direktur Astra International, Prijono Sugiarto, dalam workshop wartawan industri yang diselenggarakan Astra group di Bandung, Jumat (11/11).
Melalui tambang milik sendiri, kata dia, UNTR menjual 3,2 juta ton batubara selama sembilan bulan pertama tahun ini.
UNTR memiliki kepemilikan saham di delapan perusahaan tambang. Untuk mendukung ekspansi usahanya, distributor alat berat dan produsen batubara ini telah melakukan penerbitan saham baru (right issue) senilai US$ 700 juta.
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Widya Wiryawan, mengatakan perseroan tengah melakukan uji kelayakan (feasibility study) untuk menjajaki produksi minyak goreng dari kelapa sawit.
"Produksi CPO Indonesia jauh lebih besar dibanding permintaan dalam negeri, sehingga jika ingin masuk ke segmen ini, harus diekspor," ujarnya.
Untuk itu, ia menjelaskan bahwa perusahaan perlu mengupayakan distribusi dan branding.
"Untuk bermain di end user downstream tidak mudah, karena harus siapkan tujuan ekspor," kata Widya, sambil menambahkan China dan India bisa menjadi pasar potensial ekspor.
Santosa, Direktur Keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk. Menambahkan, bahwa selama 9 bulan terakhir perusahaan terus menjajaki daerah plantation di luar Sumatra.
"Ada 2 lokasi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk penjajakan baru," kata Santosa.
Hingga September, lahan plantantion AALI paling besar berlokasi di Kalimantan (110.000 hektar), diikuti Sumatra (106.000 hektar), dan Sulawesi (49.000 hektar).
Total area plantantion mencapai 265.000 hektar, dengan total kapasitas pengolahan CPO sebesar 1.050 ton FFB (fresh fruit bunches/ tandan buah segar) per jam dari 6 lokasi pengolahan.
"Biaya investasi untuk satu pabrik berkisar $12-14 juta," kata Widya.
Menurut dia, prospek pasar minyak goreng ke depan cukup menjanjikan. Dalam 10 tahun terakhir, kebutuhan dalam negeri sekitar 3,5-4 juta ton per tahun.
Sayangnya, persoalan lahan masih menemui kendala. Hal ini terlihat dari semakin berkurangnya lahan yang bisa dikelola.
Selain itu, perusahaan juga harus memerhatikan sinkronisasi dengan perusahaan lain untuk memastikan tidak terjadi tumpang tindih lahan, misalnya dengan pertambangan.
Kontribusi laba bersih segmen agribisnis terhadap total laba bersih Astra group mencapai Rp 1,5 triliun selama Januari-September 2011.
Sementara produksi CPO akhir Oktober mencapai 1,049 juta ton atau meningkat sebesar 16,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dua anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) tengah menjajaki upaya hilirisasi atau pengolahan di sektor batubara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
"PT Telen Orbit Prima, (unit usaha UNTR) di Kalimatan Tengah sudah melakukan setengah hilirisasi, seperti crushing danwashing," kata Presiden Direktur Astra International, Prijono Sugiarto, dalam workshop wartawan industri yang diselenggarakan Astra group di Bandung, Jumat (11/11).
Melalui tambang milik sendiri, kata dia, UNTR menjual 3,2 juta ton batubara selama sembilan bulan pertama tahun ini.
UNTR memiliki kepemilikan saham di delapan perusahaan tambang. Untuk mendukung ekspansi usahanya, distributor alat berat dan produsen batubara ini telah melakukan penerbitan saham baru (right issue) senilai US$ 700 juta.
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Widya Wiryawan, mengatakan perseroan tengah melakukan uji kelayakan (feasibility study) untuk menjajaki produksi minyak goreng dari kelapa sawit.
"Produksi CPO Indonesia jauh lebih besar dibanding permintaan dalam negeri, sehingga jika ingin masuk ke segmen ini, harus diekspor," ujarnya.
Untuk itu, ia menjelaskan bahwa perusahaan perlu mengupayakan distribusi dan branding.
"Untuk bermain di end user downstream tidak mudah, karena harus siapkan tujuan ekspor," kata Widya, sambil menambahkan China dan India bisa menjadi pasar potensial ekspor.
Santosa, Direktur Keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk. Menambahkan, bahwa selama 9 bulan terakhir perusahaan terus menjajaki daerah plantation di luar Sumatra.
"Ada 2 lokasi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk penjajakan baru," kata Santosa.
Hingga September, lahan plantantion AALI paling besar berlokasi di Kalimantan (110.000 hektar), diikuti Sumatra (106.000 hektar), dan Sulawesi (49.000 hektar).
Total area plantantion mencapai 265.000 hektar, dengan total kapasitas pengolahan CPO sebesar 1.050 ton FFB (fresh fruit bunches/ tandan buah segar) per jam dari 6 lokasi pengolahan.
"Biaya investasi untuk satu pabrik berkisar $12-14 juta," kata Widya.
Menurut dia, prospek pasar minyak goreng ke depan cukup menjanjikan. Dalam 10 tahun terakhir, kebutuhan dalam negeri sekitar 3,5-4 juta ton per tahun.
Sayangnya, persoalan lahan masih menemui kendala. Hal ini terlihat dari semakin berkurangnya lahan yang bisa dikelola.
Selain itu, perusahaan juga harus memerhatikan sinkronisasi dengan perusahaan lain untuk memastikan tidak terjadi tumpang tindih lahan, misalnya dengan pertambangan.
Kontribusi laba bersih segmen agribisnis terhadap total laba bersih Astra group mencapai Rp 1,5 triliun selama Januari-September 2011.
Sementara produksi CPO akhir Oktober mencapai 1,049 juta ton atau meningkat sebesar 16,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




