RI Siap Hadapi AEC
Selasa, 15 November 2011 | 14:23 WIB
Kemajuan yang telah dilakukan negara di Asia Tenggara ini adalah liberalisasi perdagangan dan regulasi kompetisi bisnis yang sehat.
Indonesia siap menghadapi era bebas masyarakat ekonomi Asean (Asean Economic Cummunity/AEC) pada 2015 mendatang. Kemajuan yang telah dilakukan negara di Asia Tenggara ini adalah liberalisasi perdagangan dan regulasi kompetisi bisnis yang sehat.
"Kita sekarang sudah banyak melakukan, sesuai dengan rencana," kata Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Gusnardi Bustami, kepada wartawan di sela persiapan pertemuan pejabat ekonomi senior untuk KTT Asean ke-19 di Nusa Dua, Bali, hari ini.
AEC sendiri terdiri dari empat pilar yaitu arus barang, jasa, dan pusat produksi yang bebas dalam kawasan, kompetisi bisnis yang sehat, perkembangan ekonomi yang setara antar negara di kawasan, dan integrasi dengan ekonomi global.
Mengengai pilar pertama, kata Gusnardi, negara-negara di Asean sudah hampir melaksanakan semuanya. "Kita lihat sendiri perdagangan, di antara sesama Asean, 99,9 persen sudah tidak ada hambatan, sudah berjalan dengan baik," lanjutnya.
Adapun Indonesia jelas dia, telah menerapkan tarif nol persen untuk hampir semua barang yang diimpor dari negara-negara Asean sejak tahun 2010 sejalan dengan pakta perdagangan bebas ASEAN (Asean Free Trade Agrement/AFTA).
Pilar yang kedua lanjut dia, juga sudah hampir rampung. Apalagi Indonesia cukup maju dalam membuat undang-undang (UU) Kompetisi. "Kita banyak membagi pengalaman kepada negara-negara Asean," lanjutnya.
Soal integrasi ekonomi global, menurutnya, tidak akan menemui kendala. Pasalnya, saat ini Asean merupakan kawasan yang menarik di mata investor asing. Salah satu yang menjadi daya tarik adalah pertumbuhan ekonomi yang positif di tengah ancaman krisis global. "Dilihat oleh negara-negara dunia, Asean sangat menarik.
Namun Gusnardi mengatakan, Indonesia dan negara lailn di Asia Tenggara masih menghadapi tantangan dalam kesetaraan pembangunan ekonomi. "Bagaimana kita mengurangai gap di antara negara-negara Asean dan juga di dalam negara Asean itu sendiri. Ini salah satu isu yang terus dikembangkan yang tentunya akan dilaporkan kepada para menteri," ujarnya.
Saat ini, negara-negara yang dinilai masih tertinggal atau dikenal CMLV adalah Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam. "Proses pembebasan tarif perdagangan di keempat negara tersebut baru akan rampung 2017," kata Gusnardi.
Indonesia siap menghadapi era bebas masyarakat ekonomi Asean (Asean Economic Cummunity/AEC) pada 2015 mendatang. Kemajuan yang telah dilakukan negara di Asia Tenggara ini adalah liberalisasi perdagangan dan regulasi kompetisi bisnis yang sehat.
"Kita sekarang sudah banyak melakukan, sesuai dengan rencana," kata Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Gusnardi Bustami, kepada wartawan di sela persiapan pertemuan pejabat ekonomi senior untuk KTT Asean ke-19 di Nusa Dua, Bali, hari ini.
AEC sendiri terdiri dari empat pilar yaitu arus barang, jasa, dan pusat produksi yang bebas dalam kawasan, kompetisi bisnis yang sehat, perkembangan ekonomi yang setara antar negara di kawasan, dan integrasi dengan ekonomi global.
Mengengai pilar pertama, kata Gusnardi, negara-negara di Asean sudah hampir melaksanakan semuanya. "Kita lihat sendiri perdagangan, di antara sesama Asean, 99,9 persen sudah tidak ada hambatan, sudah berjalan dengan baik," lanjutnya.
Adapun Indonesia jelas dia, telah menerapkan tarif nol persen untuk hampir semua barang yang diimpor dari negara-negara Asean sejak tahun 2010 sejalan dengan pakta perdagangan bebas ASEAN (Asean Free Trade Agrement/AFTA).
Pilar yang kedua lanjut dia, juga sudah hampir rampung. Apalagi Indonesia cukup maju dalam membuat undang-undang (UU) Kompetisi. "Kita banyak membagi pengalaman kepada negara-negara Asean," lanjutnya.
Soal integrasi ekonomi global, menurutnya, tidak akan menemui kendala. Pasalnya, saat ini Asean merupakan kawasan yang menarik di mata investor asing. Salah satu yang menjadi daya tarik adalah pertumbuhan ekonomi yang positif di tengah ancaman krisis global. "Dilihat oleh negara-negara dunia, Asean sangat menarik.
Namun Gusnardi mengatakan, Indonesia dan negara lailn di Asia Tenggara masih menghadapi tantangan dalam kesetaraan pembangunan ekonomi. "Bagaimana kita mengurangai gap di antara negara-negara Asean dan juga di dalam negara Asean itu sendiri. Ini salah satu isu yang terus dikembangkan yang tentunya akan dilaporkan kepada para menteri," ujarnya.
Saat ini, negara-negara yang dinilai masih tertinggal atau dikenal CMLV adalah Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam. "Proses pembebasan tarif perdagangan di keempat negara tersebut baru akan rampung 2017," kata Gusnardi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




