Distribusi Obat Reguler Masih Dominan
Jumat, 20 Juni 2014 | 20:26 WIB
Semarang - PT Phapros Tbk (non listed) masih mengandalkan kanal distribusi reguler (di luar tender pemerintah) dalam menopang pemenuhan target penjualan tahun ini. Saat ini distribusi reguler Phapros didukung oleh 450 tenaga pemasaran yang tersebar di 43 kantor cabangnya di seluruh Tanah Air.
"Dari target penjualan tahun ini yang sebesar Rp620 miliar, 80 persen masih didominasi dari hasil penjualan reguler, sisanya tender pemerintah," ungkap Direktur Utama PT Phapros Tbk, Iswanto di Semarang, Jumat (20/6).
Dia menjelaskan, untuk tahun ini Phapros telah mendapatkan proyek tender pengadaan obat BPJS Kesehatan berdasarkan e-catalog senilai Rp 120 miliar. Dengan target penjualan 2014 yang sebesar Rp 620 miliar, distribusi obat ke BPJS Kesehatan akan menyumbang di kisaran 19-20 persen ke total penjualan.
Secara umum, target penjualan tahun ini dipatok tumbuh 20 persen dari tahun 2013 yang sebesar Rp 521 miliar. Sementara laba bersih diperkirakan tumbuh lebih tinggi hingga 50 persen dari tahun lalu yang sebesar Rp 43 miliar.
"Target kita tinggi karena memng kita melihat pendapatan masyarakat mulai meningkat, sehingga perhatian terhadap kesehatan sebagai langkah preventif juga meningkat. Juga dari sisi coverage BPJS Kesehatan, ada dana pemerintah untuk masyarakat low income," pungkas Iswanto.
Hasilnya, lanjut dia, sinyal positif terlihat sepanjang semester pertama tahun ini. Iswanto menyebutkan, pertumbuhan penjualan di semester pertama sudah mencapai 12 persen. Dengan pola bisnis yang tumbuh lebih tinggi di semester kedua, maka Iswanto meyakini pertumbuhan penjualan 20 persen tahun ini bisa tercapai.
"Pola bisnis menggeliat di semester dua. Dana APBN sebagian besar direalisasikan di semester dua. Jadi kalau realisasi penjualan Mei, kita sudah di atas target bulanan. Pasti lanjut di Juni dan akan terus sampai akhir tahun perumbuhan sell 20 persen bukan hal yang sulit," jelas Iswanto.
Sejauh ini, dengan satu pabrik (Plant I) yang beroperasi di area sekitar tiga hektare, Phapros telah memproduksi 230 lebih produk yang terbagi dalam empat kategori, yakni OTC, Ethical, Generic dan Agromed.
Empat kategori produk tersebut dipasarkan melalui divisi OTC (tanpa resep) 15 produk; Alpha (dengan resep/ethical) 52 produk; Delta, obat resep yang sudah menjadi komoditi/mature 25 jenis produk; obat Generic 145 produk.
"Ada juga divisi kelima, yakni Toll In. Ini fungsinya menerima order produksi obat dari farmasi lain dengan sertifikasi yang sama. Ada 18 industri farmasi yang sudah order seperti Kalbe, Dexa, Sogo, Aktafis, dan Pifzer," kata Direktur Produksi PT Phapros Tbk, Barokah Sri Utami.
Dia menjelaskan, mengingat permintaan obat yang mulai meningkat, Phapros akan memproduksi obat jenis baru di pabrik baru yang direncanakan akan dimulai pembangunannya di Oktober tahun ini.
"Pabrik baru nanti menerapkan produksi vertikal, mulai dari produksi awal di lantai atas, hingga pengepakan di lantai akhir. Ini sangat efisien dalam menghasilkan produk yang kompetitif, karena kita dihadapkan dengan kondisi low price kompetisi. Jadi obat generik yang didorong memenuhi permintaan pasar BPJS," ujar Sri Utami.
Sementara Direktur Keuangan PT Phapros Tbk, Budi Ruseno mengatakan, fluktuasi rupiah di 2014 akan lebih baik dibanding tahun lalu. Ada beberapa upaya Phapros dalam menjaga pelemahan rupiah tidak menekan kinerja seperti tahun 2013.
"Pertama, tentu kita pantau terus pergerakan rupiah sehingga bisa lakukan hedging. Kedua efisiensi dalam proses produksi, ketiga buka pasar ekspor dalam rangka imbangi impor bahan baku yang tinggi. Dan keempat mengembangkan produk herbal dan bahan baku lokal," tukas Budi.
Kendati demikian, fluktuasi rupiah saat ini belum mendorong Phapros untuk menyesuaikan harga. Pasalnya, harga obat generik mengikut harga yang ditetapkan dalam e-catalog. Sementara produl lain, seperti OTC dan Ethical sejauh ini belum diputuskan perubahannya. "Kita masih evaluasi, mengkaji perkembangan kurs."
Iswanto menambahkan, terkait perluasan pasar ekspor, juga menjadi fokus Phapros. Pasalnya, market share Phapros saat ini baru menyentuh angka 1,5 persen. "Maka kita coba pasar ekspor. Mulai thn ini, ekspor perdana prodak Ibuproven di April lalu ke Kamboja, dan nanti Antimo anak pada Juli nanti ke Vietnam. Daya saing kita kuat untuk dua produk ini," ujar Iswanto.
Dia menegaskan, pasar farmasi sangat besar oleh karena tidak ada industri yang memonopi pasar. Menurut dia, untuk pemain nomor satu saja market share-nya hanya tujuh sampai delapan persen.
"Tidak ada mayoritas. Segmen tertentu saja yang kuat. Mislanya obat terapi ortopedi kuat di kita. OTC relatif menengah, karena yang branded baru Antimo," pungklas Iswanti.
Dia mengakui kompetisi di pasar farmasi sangat ketat, tetapi sangat regulated. Oleh karena karena regulasi yang terus berubah. Dari 200 pemain di industri farmasi, kata dia, hanya 30 pemain yang menguasai 70 persen pasar farmasi. "Yang berjuang itu posisi pemain ke 40 ke atas, rebutan pasar yang 30 persen," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




