OJK Optimistis Pertumbuhan Kredit Perbankan 16%
Jumat, 29 Agustus 2014 | 01:19 WIBJakarta ― Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pertumbuhan kredit perbankan nasional hingga akhir tahun 2014 tumbuh hingga 15-16 persen secara year on year (yoy). Sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh pada kisaran 13-14 persen (yoy). Optimistis tersebut berdasarkan kinerja perbankan nasional hingga Agustus ini yang relatif stabil.
Ketua Dewan Komisioner Muliaman D Hadad memaparkan, transaksi antar bank hingga saat ini masih terjaga. Rasio kredit bermasalah relatif stabil rata-rata masih 1 persen. Rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) perbankan berada pada 9,25 persen atau tumbuh 0,55 persen (yoy). Pertumbuhan DPK mencapai 4,44 persen atau 13,43 persen (yoy).
"Berdasarkan rencana bisnis bank (RBB), kami optimistis pertumbuhan kredit perbankan nasional tumbuh," kata dia dalam acara Indonesian Banking Expo (Ibex) 2014 di Jakarta, Kamis (28/8).
Dia menuturkan, ratio kecukupan modal bank nasional berada di posisi 19,51 persen atau lebih tinggi dibandingkan per Januari 2014 yang hanya mencapai 18,59 persen. Ratio modal inti utama (common equity tier 1) sebesar 17,79 persen. "Jumlah ratio modal inti utama perbankan bahkan jauh lebih tinggi dari persyaratan global," jelas dia.
Pencapaian tersebut, ujar Muliaman, masih sesuai dengan kemampuan dan target bank. Namun, pertumbuhan bisnis bank memang relatif melambat pada awal tahun dan menjelang akhir tahun 2014. Pasalnya, sejalan dengan proses rebalancing dan menuju keseimbangan baru.
Dengan rebalancing, ungkap dia, pertumbuhan perbankan nasional dapat menjadi positif. Perbankan akan berada di posisi yang lebih sehat dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat. "Kami menyadari, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat potensial," tutur dia.
Untuk itu, penting untuk menyadari penataan struktur ekononomi atau reformasi struktural yang sedang terjadi. Reformasi struktural tersebut memerlukan penyesuaikan di sektor jasa keuangan. "Jadi nanti ke depan kami akan memperoleh pondasi yang kokoh, sehingga dapat tumbuh dan berkembang lebih kuat," ujar dia.
Pada kesempatan itu, Muliaman memberikan apresiasi kepada Perhimpunan Bank Swasta Nasional (Perbanas) atas pelaksanaan Ibex yang secara konsisten setiap tahun selalu diadakan. Ia menilai, perbankan nasional memiliki peran penting dalam industri nasional untuk mendukung ekonomi Indonesia. Namun tantangan ke depan terkait integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 dan integrasi sektor perbankan pada 2020.
Tahun 2015, ujar dia, merupakan era baru bagi ASEAN karena pada tahun mendatang akan dimulai Single ASEAN Market. "Jadi perbankan ASEAN juga akan menghadapi tantangan," jelas dia.
Menurut Muliaman, tidak sedikit pihak yang menghawatirkan MEA membawa ancaman bagi sektor keuangan Indonesia. Tetapi ia yakin, perbankan nasional akan melihat kesempatan jika memiliki persiapan yang baik. "Mudah-mudahan dengan ketangguhan manajemen, risiko dapat teratasi ," ujar dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




