UKM Berbasis Mangrove Produksi Pakaian Hingga Kudapan
Senin, 22 September 2014 | 19:02 WIB
Surabaya - Salah satu usaha kecil menengah (UKM) yang berperspektif lingkungan di kota Surabaya adalah UKM yang menggunakan bahan pokok mangrove atau tanaman bakau. Dengan berbagai jenis tanaman bakau, UKM Griya Karya Tiara Kusuma (GKTK) bisa menghasilkan berbagai produk antara lain tepung kue dan es krim, bahan steak, kerupuk, sirup, permen, batik, sabun cair, pembersih lantai hingga pakan ternak.
Pendiri GKTK Lulut Sri Yuliani yang merupakan warga Kedungasem, Rungkut, Surabaya menuturkan bahwa UKM yang digagasnya hanya menggunakan tanaman bakau yang bukan berasal dari area konservasi, sungai dan pantai. Oleh karena itu bahan baku mangrove dihasilkan dari budidaya.
"Sistem pengolahannya serois atau green jadi tidak meninggalkan limbah," demikian kata Lulut yang juga dikenal sebagai pakar mangrove tersebut di kediamannya di Rungkut, Minggu siang kemarin.
Tanaman mangrove hasil budidaya terdapat di Bangkalan, Pasuruan, beberapa wilayah Sumaetera dan Kalimantan. Di Surabaya sendiri UKM GKTK dihidupkan lebih dari 400 anggota unit usaha dengan berbagai produk baik padat maupun kering. Selain itu GKTK juga menghidupkan Batik Seru yaitu batik yang bahan dasarnya dari tanaman bakau yang dibuat tak hanya oleh kelompok ibu rumah tangga juga sarana melukis bagi anak-anak jalanan yang didatangkan ke GKTK.
Kalpataru dan Nilai Ekonomi
Lulut sendiri terinspirasi dengan pentingnya nilai ekonomi berawal dari kecintaannya akan lingkungan. Pertengahan tahun 2000an mulai mengolah produk Mangrove, minatnya memberdayakan produk itu semakin gencar saat adanya pembalakan liar di pantai timur Surabaya. Ternyata menurut Lulut pembalakan dilakukan sejumlah pihak untuk kepentingan ekonomi.
Oleh karena itu selain mengerjakan kampanye konservasi mangrove, perempuan dengan satu putra ini mengembangkan UKM budidaya mangrove dan produk olahannya. Tak tanggung-tanggung binaan GKTK tak hanya di Indonesia namun juga hingga ke Fiji dan Timor Leste.
Sejak tahun 2010 GKTK secara legal menjadi koperasi. UKM ini bisa memiliki omset rerata 25 hingga 50 juta per bulan di Surabaya. Keuntungan dari UKM selain untuk operasional masing-masing cabang UKM juga kerap digunakan untuk kampanye dan pembinaan budidaya mangrove.
Terdapat 68 jenis mangrove dan ratusan spesies yang bisa digunakan untuk macam-macam produk. Mangrove diklaim Lulut menghasilkan multiplikasi hasil. Dicontohkannya, mangrove bisa dijadikan sirup dan makanan sejenis tempe yang mana sisa limbah cair bisa dijadikan permen kemudian limbah padat menjadi tepung es krim. Limbah keduanya kemudian menjadi sabun maupun pembersih lantai. Limbah sabun kemudian menjadi pewarna batik dan limbah pewarna batik menjadi pupuk kompos.
"Ada sekitar 100 jenis produk di ribuan binaan kita," kata Lulut yang pada tahun 2011 ini menerima penghargaan Kalpataru yakni pnghargaan bagi para penggiat lingkungan.
Lulut menambahkan pihaknya saat ini berencana mendirikan pabrik yang akan memproduksi berbagai olahan mangrove. Dalam setahun UKM GKTK mengeluarkan pembiayaan hingga Rp 1 M. sekitar 25 persen didapatkan dari dukungan pemerintah. Sisanya dari keuntungan UKM dan binaan serta investasi dari kredit bank.
Hasil produk UKM GKTK dan binaannya dipamerkan di dua galeri di Surabaya dan di salah satu galeri GKTK di Tangerang Selatan.
"Motto saya hidup sederhana bikin karya luar biasa," kata Lulut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




