QE Eropa Untungkan RI
Selasa, 25 November 2014 | 01:06 WIBJakarta - Indonesia akan mendapat banyak manfaat jika akhirnya Bank Sentral Eropa (ECB) memberlakukan stimulus moneter (quantitative easing/QE) seperti di Amerika Serikat (AS).
"Yang penting kita bisa menjaga stabilitas makro. Kalau itu bisa dijaga, QE di Eropa akan memberikan banyak sisi positif bagi Indonesia," kata pengamat ekonomi Destry Damayanti kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (24/11).
Destry menjelaskan, QE di Eropa sebagaimana QE di AS akan membuat likuiditas di negara-negara Eropa melonjak.
"Tidak semua likuiditas itu bisa diserap. Pasti akan 'bocor' juga dan mengalir ke emerging market, termasuk ke Indonesia. Dana-dana tersebut diinvestasikan di portofolio, terutama saham dan obligasi," ujar dia.
Masuknya dana-dana asing ke Indonesia, menurut Destry Damayanti, bakal menyebabkan pasokan dolar AS lebih terjaga, sehingga rupiah akan menguat dan stabil. Cadangan devisa pun akan meningkat.
"Masuknya dana-dana asing sudah terlihat sekarang. Dana asing di surat utang negara (SUN) dalam sepekan terakhir meningkat," papar dia.
Dia menambahkan, agar tidak terjadi sudden reversal atau capital flight, stabilitas makro harus dijaga.
"Saya kira, sudden reversal tidak akan terjadi dalam jangka pendek, sepanjang kita bisa menjaga stabilitas makro," tandas dia.
Isu bahwa ECB berencana mengeluarkan QE seperti dilakukan Bank Sentral AS, The Fed dan Bank Sentral Jepang (BoJ) menguat setelah Gubernur ECB Mario Draghi pada pertemuan para bankir, akhir pekan lalu, mengisyaratkan ECB akan menempuh langkah-langkah terobosan demi mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih kondusif.
"Kami bakal menggunakan segala cara yang ada dan segenap mandat yang kami miliki untuk mengembalikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi ke jalur normal," ujar Mario Draghi.
Para pelaku pasar menginterpretasikan langkah-langkah yang dipertimbangkan ECB adalah pembelian kembali obligasi pemerintah secara besar-besaran seperti dilakukan The Fed dan BoJ.
Langkah tersebut dianggap penting untuk melawan deflasi. Saat ini, inflasi di zona euro hanya mencapai 0,4 persen, jauh di bawah target sebesar 2 persen sebagai prasyarat pemulihan ekonomi berkesinambungan di kawasan tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




