ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Butet Kartaredjasa: Bunga Bank Pemerintah Mencekik Leher

Kamis, 27 November 2014 | 10:47 WIB
FE
B
Penulis: Fuska Sani Evani | Editor: B1
Butet Kartaredjasa
Butet Kartaredjasa (Antara/Eric Ireng)

Yogyakarta - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang juga mengerek suku bunga bank cukup memberatkan para nasabah perbankan, khususnya yang memanfaatkan pinjaman.

Hal itu juga dirasakan aktor asal Yogya, Butet Kartaredjasa. Sejak 12 November 2013, bank sentral mematok suku bunga acuan pada level 7,5 persen.

Bank Indonesia menetapkan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin, dari 7,5 persen menjadi 7,75 persen, dan mulai 19 November 2014. suku bunga pinjaman (lending facility) naik 50 basis poin menjadi 8 persen.

Butet mengungkapkan, saat menandatangani akad kredit di BNI 46 tahun lalu, dirinya dikenai bunga 8,9 persen. "Tapi kini bunganya menjadi 13 persen. Ini sudah mencekik leher, lalu apa artinya bank pemerintah?" katanya.

ADVERTISEMENT

Butet pun mengaku mencoba mencari alternatif lain, termasuk bernegosiasi dengan beberapa bank swasta. "Nyatanya, ada bank swasta yang mau takeover bahkan bunganya hanya 10,5 persen," kata Butet.

Raja Monolog ini mengaku, harus meminjam dana ke BNI 46 karena demi pengembangan usaha warung makan Bu Ageng miliknya, sebesar Rp 2 miliar.

"Saya merasa berat jika harus dibebani bunga angsuran yang tinggi. Mengapa kebijakan baru tidak diterapkan kepada nasabah baru?" tanya Butet lagi.

Butet pun menyatakan bahwa negosiasi dengan pihak bank BNI 46 pun sudah dilakukan, namun usahanya sia-sia. Pihak bank BNI 46 berkukuh mematok bunga 13 persen kepada Butet.

"BNI 46 ini kan milik pemerintah, tapi kok bunganya lebih tinggi dibanding bank swasta, bagi saya ini aneh, bagaimana pun, kita memilih kredit pada bank pemerintah, dengan harapan pelayanannya lebih baik, aman dan berpihak kepada rakyat Indonesia. Nah saya juga bingung, ada bank swasta yang justru bunganya rendah dari bank pemerintah," kata Butet.

Secara logika awam, Butet pun berargumentasi bahwa jika bank swasta yang hidup tanpa ditopang pemerintah mampu mengeluarkan bunga 10,5 persen, seharusnya bank pemerintah bisa lebih rendah dari itu.

Kesan dengan perlakuan bank milik pemerintah tersebut, Butet tegas menyatakan akan mencabut segala-sesuatu yang berhubungan dengan BNI 46, termasuk tabungan, kartu kredit dan akan melunasi semua pinjamannya.

"Saya akan pindahkan ke Credit Union yang bunga pinjamannya jauh lebih rendah. Meski saya dipinalti 2,5 persen, tidak masalah," ujar Butet.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon