ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI Ungkap Tantangan Perekonomian 2015

Kamis, 4 Desember 2014 | 13:10 WIB
MW
FB
Penulis: Margye J Waisapy | Editor: FMB
Ilustrasi pembangunan infrastruktur yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ilustrasi pembangunan infrastruktur yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia. (AFP)

Jakarta - Perekonomian Indonesia 2015 akan sangat menghadapi berbagai gejolak yang datang dari eksternal maupun internal.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Hendar mengatakan, beberapa faktor yang perlu diwaspadai yaitu rencana normalisasi kebijakan The Fed yang dapat memicu aliran modal keluar dari negara-negara emerging (berkembang), termasuk Indonesia.

"Normalisasi akan segera dimulai, dan waktunya bisa pada triwulan II-2015 atau triwulan III-2015," kata Hendar dalam acara Outlook Perekonomian Indonesia Tahun 2015 di Jakarta, Kamis (4/12).

Hal kedua yaitu, tren perlambatan ekonomi Tiongkok yang memicu pelemahan demand terhadap produk manufaktur dan komoditas.

ADVERTISEMENT

"Beberapa langkah yang dilakukan oleh Bank Sentral Tiongkok yang menurunkan suku bunga mengindikasi mereka menghadapi fenomena penurunan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

BI pun menyadari tingginya tingkat bunga koorporasi yang belum melakukan lindung nilai dari gejolak kurs sehingga menimbulkan kerentanan terhadap faktor eksternal di tengah kinerja ekspor yang belum membaik.

"Pada akhir triwulan III-2014, posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 292 miliar, yang sebagian besar adalah utang swasta," jelas Hendar.

Sedangkan, tantangan dari dalam negeri yaitu tekanan inflasi karena kenaikan harga energi non bahan bakar minyak (BBM), seperti kemungkinan kenaikan LPG, tarif dasar listrik, dan risiko peningkatan kerentanan eksternal.

Untuk menghadapi semua tantangan tersebut, BI senantiasa waspada dan menempuh kebijakan moneter yang stabil dan mengarah pada pencapaian inflasi dengan kontrol target 4 ± 1 persen pada 2015, serta penurunan defisit transaksi berjalan. Dan mengurangi risiko hard landing ekonomi.

"Pertumbuhan modal diubah dari ekspor komoditas menjadi ekspor hasil manufaktur. Hampir 80 persen penciptaan nilai barang terjadi di sini. Oleh sebab itu penciptaan infrastruktur, logistik dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus terus diupayakan," jelas Hendar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

EKONOMI
BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

EKONOMI
Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
Rupiah Rontok ke Rp 17.528 Per Dolar AS, Purbaya Siap Dipanggil DPR RI

Rupiah Rontok ke Rp 17.528 Per Dolar AS, Purbaya Siap Dipanggil DPR RI

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon