BI: Kuartal III-2014, Investasi Asing Mencapai US$ 627,8 Miliar
Kamis, 1 Januari 2015 | 22:16 WIB
Jakarta - Pihak Bank Indonesia (BI) mencatat, Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia yakni, net kewajiban sebesar US$ 413,1 miliar atau sekitar 49 persen PDB pada akhir kuartal III-2014. Angka ini meningkat 2,9 persen dari posisi net kewajiban sebesar US$ 401,5 miliar atau 47,7% PDB pada akhir kuartal II-2014.
Peningkatan terjadi karena didorong surplus transaksi finansial untuk pembiayaan defisit transaksi berjalan di Neraca Pembiayaan Indonesia (NPI). Hal ini mengakibatkan, investasi asing di Indonesia (Kewajiban Finansial Luar Negeri/KFLN) lebih besar dibandingkan dengan investasi Indonesia di luar negeri (Aset Finansial Luar Negeri/AFLN).
Dikutip dari data PII Indonesia yang dikeluarkan BI pada Rabu (31/12) menunjukan, posisi AFLN Indonesia meningkat US$ 6,6 miliar atau 3,2% menjadi US$ 214,5 miliar pada akhir kuartal III-2014. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh transaksi penambahan investasi Indonesia pada asset finansial asing yang sebagian besar berupa cadangan devisa (cadev).
Namun, peningkatan AFLN tersebut tertahan oleh factor negatif revaluasi aset sejalan dengan penguatan dolar AS secara umum terhadap beberapa mata uang dunia dan turunnya harga emas global.
Sementara itu, untuk posisi KFLN Indonesia meningkat US$ 18,3 miliar atau 3% menjadi US$ 627,6 miliar pada akhir kuartal III-2014. Peningkatan ini didorong oleh aliran masuk modal asing, terutama dalam bentuk investasi asing dan portofolio.
Selain itu, faktor revaluasi pada kuartal laporan tercatat positif terutama karena perubahan harga aset finansial domestik yang sejalan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 5,3% dari penutupan kuartal sebelumnya. Faktor kenaikan harga aset tersebut melampaui dampak penurunan nilai kewajian finasial karena penguatan dolar AS terhadap rupiah dan mata uang dunia lainnya.
BI menilai, perkembangan PII Indonesia sampai dengan kuartal III-2014 mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. BI berkeyakinan kinerja PII Indonesia akan semakin sehat dengan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh BI.
Menurut Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih, investasi asing yang meningkat tentu dapat mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia. Hal ini didukung melalui investasi langsung asing yang lebih besar (berdasarkan data BI, tercatat total investasi langsung asing ke Indonesia sebesar US$ 271,2 miliar atau 34% dari total KFLN sebesar US$ 627,5 miliar).
"Ini hal yang baik untuk perekonomian, kalau BI melihat dari porsi foreign direct investmen yang besar. Oleh sebab itu, pemerintah ke depan harus benar-benar serius menyelesaikan sistem perizinan satu pintu. Karena satu pintu tersebut satu-satunya harapan besar," kata Lana kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (1/1).
Selain itu, pembenahan birokrasi dari praktik-praktik pungutan liar. Dan apabila Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) bisa membuat penyelesaian perizinan usaha dalam waktu singkat itu menjadi terobosan yang baik.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Institute of Development for Economic and Financial (Indef) Eny Sri Hartati mengatakan, investasi asing di Indonesia hamper tiga kali lipat dari investasi Indonesia ke luar negeri. Sehingga kalau dineracakan, antara nilai tambah yang dinikmati dengan kewajiban yang harus dibayar Indonesia masih sangat procons. Hal ini akan berpengaruh pada repatriasi cukup besar.
Lebih lanjut, Eny menuturkan, capital inflow bak ‘penambah darah’ bagi perekonomian karena ada injeksi capital. Namun, pendalam di sektor riil masih sangat terbatas.
"Instrumen market capital sebagai alat pembayaran masih terbatas. Volume kapasitas market tidak ke sektor riil sehingga tidak efisien kinerja dari pasar modal. Antara pemanfaat dan kewajiban yang dibayarkan tidak balance. Pendalaman fungsi dari capital market harus baik sehingga kalau capital tumbuh untuk pembiayaan sektor riil atau kalau capital dapat injekasi yang cukup lumayan untuk pembiayaan," jelas Eny.
Terkait investasi langsung asing, Eny mengatakan, pemerintah pun harus memperhatikan apakah investasi tersebut mengarah kepada sektor yang produkif seperti, industry pengolahan yang berbahan baku nonimpor. "Investasi Indonesia masih sangat menarik, namun persoalannya bagaimana kita dapat mengoptimalkan investasi yang masuk untuk perkuat perekonomian," tegas Eny.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




