Bulog Jateng Percepat Penyaluran Raskin
Selasa, 3 Maret 2015 | 09:44 WIB
Semarang - Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Tengah (Jateng) mempercepat penyaluran beras untuk warga miskin (Raskin) untuk menekan laju kenaikan harga beras akhir-akhir ini, dengan menyalurkan 49.300 ton untuk rumah tangga sasaran (RTS).
Kepala Bulog Divre Jateng, Damin Hartono, kepada SP, Selasa (3/3) mengakui, tidak disalurkannya raskin selama tiga bulan terakhir ini menjadi salah satu faktor penyebab lonjakan harga beras di pasaran.
Kondisi itu terjadi karena raskin untuk bulan November-Desember lalu sudah diberikan pada Maret 2014.
"Apalagi musim tanam tahun lalu juga mundur karena El Nino, ditambah kini terjadi paceklik," ujarnya.
Maka, setelah pemerintah melanjutkan program raskin, Bulog Divre Jateng langsung mempercepat penyaluran raskin kepada RTS. Hingga akhir Februari lalu, pihaknya telah menyalurkan raskin sebanyak 49.300 ton.
Jumlah tersebut 11,03% dari total pagu setahun sebesar 446.788 ton atau 66% dari pagu dua bulan yakni Januari dan Februari.
Damin menjelaskan, penyaluran raskin dimulai pada awal Februari lalu untuk jatah bulan Januari. Lalu untuk penyaluran Februari dilakukan minggu kedua dan ketiga bulan tersebut. Sedangkan untuk bulan Maret ini, akan disalurkan pada minggu pertama dan kedua.
Sementara itu, meski harga beras kini terus merangkak naik, namun kondisi tersebut tidak menyebabkan Provinsi Jateng mengalami inflasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menyebutkan bahwa pada Februari 2015 mengalami deflasi 0,62%.
Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jateng Jam Jam Zamachsyari mengatakan, deflasi itu terjadi karena adanya penurunan harga BBM yang diikuti penurunan harga cabai.
Ia juga mengatakan kenaikan harga beras itu sudah terjadi sejak empat bulan. Namun, kata dia, isu tersebut dikalahkan dengan adanya kebijakan kenaikan harga BBM.
"Penurunan BBM pada beberapa waktu lalu berimbas di berbagai sektor sehingga bisa menekan angka inflasi yang diakibatkan kenaikan beras. Selain itu, banyak masyarakat yang mengkonsumsi beras kualitas premium sehingga tidak terlalu memengaruhi daya beli masyarakat," ujar Jam Jam.
Kepala Bidang Statistik Produksi BPS Jateng Totok Tavirijanto menambahkan, naiknya harga beras saat ini diperkirakan adanya penurunan angka padi produksi padi sekitar 9,65 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Sedangkan angka produktivitas tanaman padi, pada 2014 mengalami penurunan sebesar 2,48 kuintal per hektare dibanding angka produktivitas tanaman padi pada 2013 yakni sebesar 56,06 kuintal per hektare.
"Bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Jateng pada awal 2014 juga menyebabkan penurunan produksi padi. Semoga pada tahun ini produksi padi lebih banyak sebab cuaca juga mendukung terjadi panen raya," kata Totok.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




