ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BPS: Strategi Pemerintah Berhasil Ciptakan Surplus Neraca Perdagangan

Senin, 16 Maret 2015 | 17:22 WIB
YW
FB
Penulis: Yosi Winosa | Editor: FMB
Pekerja menyelesaikan perbaikan gedung Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta. BPS mencatat inflasi naik dan turun.
Pekerja menyelesaikan perbaikan gedung Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta. BPS mencatat inflasi naik dan turun. (ANTARA FOTO)

Jakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) menilai surplus neraca perdagangan bulan Februari sebesar US$ 0,74 miliar dipicu surplus sektor nonmigas sebesar US$ 0,57 miliar dan surplus sektor migas sebesar US$ 0,17 miliar.

Kepala BPS Suryamin menyatakan, dari sisi volume, neraca perdagangan Indonesia pada Februari surplus 27,61 juta ton yang didorong surplus sektor nonmigas sebesar 27,76 juta ton meski sektor migas defisit 0,15 juta ton.

Suryamin menilai strategi pemerintah mendorong ekspor bernilai tambah (olahan) mampu membuat neraca perdagangan melanjutkan surplus selama tiga bulan berturut-turut, meski perekonomian global cenderung melemah. Meskipun perkembangan industri pengolahan masih lambat lantaran kurangnya daya saing (harga, kualitas, distribusi), namun cukup berpengaruh positif terhadap surplus ekspor.

"Strategi pemerintah mengantisipasi penurunan ekspor barang-barang nonmigas dengan mendorong proses pengolahan dalam negeri (hilirisasi) yang menciptakan nilai tambah, lapangan pekerjaan, termasuk tren pergeseran kontribusi ekspor pertanian dan tambang ke manufaktur, ini berpengaruh," paparnya.

ADVERTISEMENT

Sementara Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo menilai, penurunan impor migas menjadi penyebab utama surplus neraca perdagangan. Impor migas turun 50,26 persen yoy menjadi US$ 1,72 miliar dari US$ 3,46 miliar pada periode yang sama tahun lalu. "Secara month to month impor migas turun hingga 18,7 persen, dari sisi volume juga turun dari 3,61 juta ton menjadi 3,52 juta ton, semakin diuntungkan dengan pelemahan harga minyak dunia," katanya.

Sementara dari sisi ekspor migas, volume ekspor minyak mentah Indonesia juga meningkat 21,26 persen diiringi kenaikan harga dari US$ 45,25 per barel pada Januari menjadi US$ 54,32 per barel pada Februari. Ini membuat ekspor minyak mentah Indonesia pada Februari naik menjadi US$ 745,1 juta dari US$ 499,7 juta.

Dari sisi ekspor nonmigas, kenaikan harga pada sejumlah komoditas seperti karet dan kakao, turut mendorong surplus neraca perdagangan. Plus, trend pelemahan rupiah juga membuat harga sejumlah komoditas seperti furnitur, mesin percetakan, termasuk tambang seperti nikel, besi dan baja membaik. Ekspor nikel, besi dan baja Indonesia pada Februari naik. "Ekspor nikel naik dari US$ 70,7 juta menjadi US$ 83,4 juta, sementara besi dan baja naik dari US$ 74,4 juta menjadi US$ 116,1 juta, dari 98 komoditas, ada 25 komoditas yang terimbas positif akibat depresiasi rupiah terhadap dolar AS," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kabar Baik! Kesenjangan Gender di Indonesia Capai Level Terendah 2025

Kabar Baik! Kesenjangan Gender di Indonesia Capai Level Terendah 2025

MULTIMEDIA
Aceh Jadi Provinsi dengan Indeks Demokrasi Tertinggi di Sumatera

Aceh Jadi Provinsi dengan Indeks Demokrasi Tertinggi di Sumatera

NUSANTARA
Pengangguran RI Turun ke 7,24 Juta, Kota Besar Masih Bermasalah

Pengangguran RI Turun ke 7,24 Juta, Kota Besar Masih Bermasalah

MULTIMEDIA
Konsumsi Pemerintah Melejit 21,81 Persen, Ekonomi RI Kuartal I Gaspol!

Konsumsi Pemerintah Melejit 21,81 Persen, Ekonomi RI Kuartal I Gaspol!

MULTIMEDIA
Jumlah Penduduk Jakarta 10,72 Juta Jiwa, Mayoritas Milenial dan Gen Z

Jumlah Penduduk Jakarta 10,72 Juta Jiwa, Mayoritas Milenial dan Gen Z

JAKARTA
IKG Terendah, Tingkat Kesetaraan Gender di Jakarta Terbaik Nasional

IKG Terendah, Tingkat Kesetaraan Gender di Jakarta Terbaik Nasional

JAKARTA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon