ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Iklim Usaha Sulit, Diperlukan Peningkatan Daya Saing

Kamis, 16 April 2015 | 13:22 WIB
WP
FB
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: FMB
Suasana pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (8/10).
Suasana pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (8/10). (Antara/OJT/Sigid Kurniawan)

Jakarta - Dunia usaha di Tanah Air saat ini tengah dilanda kesulitan di tengah serbuan produk impor yang membanjiri pasar Indonesia.

"Saat ini pengusaha kesusahan," kata CEO PT Jababeka Tbk, Darmono pada seminar dan bedah buku "Sound Macroeconomic Policies in Indonesia to Accelerate Growth and Financial Stability" di Jakarta, Kamis (16/4).

Acara bedah buku karya sekaligus hasil editan Anwar Nasution ini juga dalam rangka Dies Natalis President University ke-11. Hadir Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago, mantan Kepala Bappenas Armida Alisjahbana dan CEO PT Jababeka Tbk sekaligus pendiri President University, Darmono.

Menurut Darmono, sulitnya iklim investasi yang dihadapi pengusaha lokal karena melemahnya daya saing Indonesia akibat kurangnya efisiensi. "Daya saing kita kurang, untuk itu perlu meningkatkan nilai tambah, jangan ekspor bahan mentah," kata Darmono

ADVERTISEMENT

Saat ini kata dia, produk Tiongkok terus menyerbu pasar Indonesia. "Dengan efisiensi, harga mereka jauh lebih murah," kata Darmono.

Namun Kepala Bappenas Andrinof Chaniago mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki peringkat lebih baik sebagai tempat investasi "Pertanyaannya bagaimana memastikan arah investasi ke depan?" kata Andrinof.

Jokowi, kata Andrinof, berulang-ulang mengingatkan jangan terus-menerus mengeksplorasi sumber daya alam (SDA) yang suatu saat akan habis. Diperlukan industri pengolahan yang bisa memberikan nilai tambah. "Dari data, ada tujuh provinsi pertumbuhan ekonominya tertekan, semuanya daerah penghasil SDA," kata Kepala Bappenas.

Andrinof menilai, sektor industri merupakan salah satu penopang dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini, pertumbuhan industri diperkirakan bisa melampaui pertumbuhan ekonomi. "Pada negara maju, industri menjadi salah satu fokus yang terus dibenahi pemerintah," katanya.

Andrimof mengatakan, saat ini industri manufaktur telah menyerap lebih kurang 13,87 persen tenaga kerja Indonesia dan menduduki peringkat empat terbesar sesudah pertanian, perdagangan, dan jasa.

Penyerapan tenaga kerja, lanjut Andrinof, diharapkan akan terus tumbuh sejalan dengan program hilirisasi industri yang dicanangkan oleh pemerintah.

"Untuk mendukung program hilirisasi industri berbasis agro, migas dan bahan tambang mineral serta pengembangan industri manufaktur perlu didukung tenaga kerja industri yang kompeten," tuturnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon