PLN Akan Bangun PLTA 7.680 MW
Rabu, 25 Januari 2012 | 17:34 WIB
Dana untuk pembangunan PLTA tersebut bukan merupakan masalah untuk PLN
Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan membangun sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 7.680 MW selama 10 tahun ke depan dengan perkiraan investasi US$ 7,7 miliar.
Hal tersebut tercantum dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2012-2021 dan tersebar pada 96 titik lokasi PLTA di Tahan Air. Rencananya, PLN mengharapkan pembangunan PLTA sebesar 12.800 MW yang terdiri dari 60 persen kapasitas dibangun oleh PLN dan sisanya dibangun oleh investor swasta.
Direktur Utama PLN Nur Pamuji mengatakan dana untuk pembangunan PLTA tersebut bukan merupakan masalah untuk PLN. "Sekarang sudah banyak lembaga keuangan yang mau memberikan pinjamannya untuk energi baru terbarukan termasuk PLTA," ujar Nur dalam pemaparannya di Musyawarah Nasional Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) di Jakarta, hari ini.
Namun, saat ini PLN masih terkendala dengan sistem konsesi pengadaan PLTA swasta. "Mekanismenya bisa seperti panas bumi yaitu dengan melalui lelang pemerintah daerah atau PLN ditunjuk melaksanakan lelangnya sehingga dapat harga yang terbaik," jelas Nur.
Untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan 25 persen di tahun 2025, Nur mengaku masih belum bisa dilakukan. Pasalnya, saat ini peran energi baru terbarukan baru 11 persen yang terdiri dari 6 persen dari tenaga air dan sisanya berasal dari panas bumi. "Sampai akhir dekade nanti hanya total 19 persen saja. Sementara tahun 2025 baru 20 persen," kata Nur.
Untuk memenuhi target 25 persen bauran energy dari baru terbarukan, Nur mengatakan PLN dapat mengakalinya dari tenaga biomassa. Namun, listrik tenaga biomassa masih belum dapat dikembangkan secara maksimal. Pasalnya sisa perkebunan kelapa sawit lebih banyak diekspor. "Kalau bisa diatur hutan biomas, bisa dibikin PLT biomas," kata dia.
Di sisi lain, dari sisi bisnis, PLN juga akan lebih memilih listrik yang mempunyai biaya operasi murah sehingga masih dapat dijual dengan tarif yang ditentukan oleh pemerintah. "Kita ini korporasi, jadi kita harus untung," kata dia.
Nur mencontohkan, listrik hasil dari pembangkit listrik tenaga panas bumi bisa dijual dengan harga 15 sen dolar per kilo watt hour (KWh), sementara dengan batubara hanya sekitar 6 hingga 7 sen per KWh.
Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan membangun sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 7.680 MW selama 10 tahun ke depan dengan perkiraan investasi US$ 7,7 miliar.
Hal tersebut tercantum dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2012-2021 dan tersebar pada 96 titik lokasi PLTA di Tahan Air. Rencananya, PLN mengharapkan pembangunan PLTA sebesar 12.800 MW yang terdiri dari 60 persen kapasitas dibangun oleh PLN dan sisanya dibangun oleh investor swasta.
Direktur Utama PLN Nur Pamuji mengatakan dana untuk pembangunan PLTA tersebut bukan merupakan masalah untuk PLN. "Sekarang sudah banyak lembaga keuangan yang mau memberikan pinjamannya untuk energi baru terbarukan termasuk PLTA," ujar Nur dalam pemaparannya di Musyawarah Nasional Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) di Jakarta, hari ini.
Namun, saat ini PLN masih terkendala dengan sistem konsesi pengadaan PLTA swasta. "Mekanismenya bisa seperti panas bumi yaitu dengan melalui lelang pemerintah daerah atau PLN ditunjuk melaksanakan lelangnya sehingga dapat harga yang terbaik," jelas Nur.
Untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan 25 persen di tahun 2025, Nur mengaku masih belum bisa dilakukan. Pasalnya, saat ini peran energi baru terbarukan baru 11 persen yang terdiri dari 6 persen dari tenaga air dan sisanya berasal dari panas bumi. "Sampai akhir dekade nanti hanya total 19 persen saja. Sementara tahun 2025 baru 20 persen," kata Nur.
Untuk memenuhi target 25 persen bauran energy dari baru terbarukan, Nur mengatakan PLN dapat mengakalinya dari tenaga biomassa. Namun, listrik tenaga biomassa masih belum dapat dikembangkan secara maksimal. Pasalnya sisa perkebunan kelapa sawit lebih banyak diekspor. "Kalau bisa diatur hutan biomas, bisa dibikin PLT biomas," kata dia.
Di sisi lain, dari sisi bisnis, PLN juga akan lebih memilih listrik yang mempunyai biaya operasi murah sehingga masih dapat dijual dengan tarif yang ditentukan oleh pemerintah. "Kita ini korporasi, jadi kita harus untung," kata dia.
Nur mencontohkan, listrik hasil dari pembangkit listrik tenaga panas bumi bisa dijual dengan harga 15 sen dolar per kilo watt hour (KWh), sementara dengan batubara hanya sekitar 6 hingga 7 sen per KWh.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




