Strategi Emiten di Era Suku Bunga Tinggi: Penerbitan EBUS Tenor Pendek
Selasa, 23 April 2024 | 18:17 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Hendro Utomo mengungkapkan strategi yang dapat dilakukan emiten untuk mendapatkan pendanaan lewat obligasi dan sukuk/EBUS dengan risiko minimum di era suku bunga tinggi.
Salah satunya, menurut dia, adalah melalui pemilihan jangka waktu tenor yang lebih pendek. Hal ini dapat membuat emiten terhindar potensi beban keuangan yang tinggi akibat dampak higher for longer Bank Sentral Amerika Serikat (AS)/Federal Reserve (The Fed).
"Emiten tentunya tidak ingin dibebani oleh beban keuangan yang tinggi, tetapi mereka bisa melakukan strategi misalnya menerbitkan EBUS-nya dengan tenor pendek. Jadi sembari menunggu suku bunga mengalami perubahan mereka tidak terkunci dengan suku bunga yang tinggi," tutur Hendro Utomo saat dijumpai di BEI, SCBD, Jaksel, Selasa (23/4/2024).
Hendro mengatakan ,tenor yang pendek misalnya selama satu tahun saja dapat dimanfaatkan emiten untuk melakukan penataan kembali, seiring suku bunga acuan yang berangsur turun. Alasannya, apabila tenor yang diambil langsung panjang semisal lima tahun, perusahaan akan berpotensi terbebani beban bunga yang tinggi selama lima tahun.
"Dengan tenor pendek memang sudah banyak dilakukan emiten-emiten di Indonesia. Jadi diharapkan (dengan strategi, red) itu juga bisa tetap meningkatkan minat penerbitan dari surat utang. Saya rasa investor juga banyak yang appetite-nya di tenor yang berjangka pendek atau menengah, imbuhnya.
Sebelumnya, Direktur PT Pefindo, Hendro Utama memproyeksikan outlook penerbitan obligas dan sukuk/EBUS masih cukup baik pada 2024 dan akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
"2023 lalu realisasi penerbitan EBUS sekitar Rp 130 triliun. Pada 2024 ini kami prediksikan di kisaran Rp 155 triliun dengan rentang antara Rp 150-170 Triliun," bebernya.
Namun demikian, dikatakan Hendro, proyeksi tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan yang akan dihadapi. Salah satunya adalah kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral Amerika Serikat (AS)/Federal Reserve (The Fed) yang membuat minat penerbitan obligasi dan sukuk/EBUS dari sisi emiten sedikit tergerus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




