IKK Tumbuh Lampaui Ekspektasi, Begini Dampak ke Pasar Modal Domestik
Senin, 13 Mei 2024 | 16:02 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia merilis data indeks keyakinan konsumen (IKK) April 2024 yang melesat ke angka 127,7. Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 123,8.
Pertumbuhan IKK sejatinya dapat menjadi katalis positif bagi pasar modal domestik. Namun, menurut Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, data tersebut tidak cukup kuat untuk menumbuhkan kepercayaan diri pelaku pasar baik domestik dan global untuk menanamkan modal di Indonesia.
"IKK bulan April tinggi karena ada momen pemilu dan pada bulan April banyak hari libur. Kombinasi dari hal tersebut membuat sentimen keyakinan konsumen menjadi tinggi, ucapnya kepada B-Universe di Bursa Efek Indonesia pada Senin (13/5/2024).
Lebih lanjut, Rudi menyebut saat ini perhatian pasar tengah tertuju pada laporan kinerja keuangan emiten dalam negeri dan data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada pekan ini.
"Namun, kalau dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan, nyatanya laporan keuangan Q1 itu kurang bagus. Jadi dampak ke pasar modal menurut saya masih terbatas, karena yang dilihat oleh orang-orang itu bukan indeks keyakinan konsumen, tetapi laba bersih dari perusahaan," tambah Rudi.
Laporan keuangan tersebut, kata Rudi, menjadi penyebab posisi pasar saham Indonesia bergejolak. Terutama pada bank-bank buku empat yang menjadi penggerak utama IHSG.
Rudi mengatakan, pelaku pasar seakan "dimanjakan" dengan laporan keuangan para big banks tahun lalu yang melonjak hingga puluhan persen, sehingga ketika laporan keuangan kuartal pertama tahun ini tidak mencapai ekspektasi, pelaku pasar menjadi tidak percaya diri. Padahal fundamental perusahaannya masih stabil.
"Fundamental empat bank besar tersebut tidak ada yang meragukan. Harganya mahal orang juga beli, tetapi harga mahal itu bisa dicapai kalau labanya tumbuh tinggi. Yang jadi masalah kalau labanya tumbuh tinggi tahun lalu tapi tahun ini tidak. Itu yang menyebabkan ketika saham bank harganya turun dan sepertinya tidak ada investor yang berani beli banyak seperti biasa," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




