Depresiasi Rupiah Picu Asing Berinvestasi di Pasar Surat Utang Domestik
Senin, 10 Juni 2024 | 05:39 WIB
Jakarta, Beritasatu.com– Pasar surat utang negara (SUN) diprediksi akan kembali marak pada pekan ini karena depresiasi rupiah sehingga memicu investor asing berburu obligasi negara meski sempat bergerak sideways pada pekan lalu. Imbal hasil (yield) SUN tenor 10 tahun diperkirakan berkisar 6,5%-7%.
Analis Pendapatan Tetap PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin mengungkapkan yield SUN tenor 10 tahun cenderung stabil sekitar 6,9% pada pekan lalu, dipengaruhi arus keluar modal asing dan tekanan rupiah. Arus keluar modal asing mencapai jual neto Rp 0,66 triliun di pasar surat berharga negara (SBN) selama 3-6 Juni 2024.
Selain itu, risiko translasi meningkat setelah rupiah melemah di atas Rp 16.200 per dolar AS. Meski demikian, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun menurun dari 71,18 basis poin (bps) pada 31 Mei 2024 menjadi 70,50 bps pada 6 Juni 2024, menunjukkan kondisi sideways dipicu aktivitas spekulatif terkait transisi kebijakan moneter di Uni Eropa.
"Saya mengharapkan pasar akan sedikit membaik pada pekan ini. Depresiasi rupiah yang terjadi pada pekan lalu diharapkan dapat menjadi katalis baru bagi asing untuk masuk kembali karena memungkinkan mereka mendapatkan keuntungan dari selisih translasi," jelas Ahmad kepada Investor Daily, Minggu (9/6/2024).
Lantaran, depresiasi memungkinkan investor asing mendapatkan lebih banyak unit dalam rupiah untuk setiap dolar yang dimiliki, maka akan memperkuat permintaan di pasar SUN.
Lebih lanjut, yield SUN 10 tahun akan bergerak pada rentang 6,5%-7%, dengan kecenderungan turun ke 6,7% pada akhir pekan ini. "Saya mengasumsikan tingkat inflasi inti AS sedikit turun, membuat stance The Fed lebih melunak. Selain itu, asing akan kembali masuk, memperkuat permintaan yang selama ini ditopang domestik," ujar dia.
Pada pekan ini, beberapa data penting akan dirilis yang dapat memengaruhi pasar SUN, seperti indikator kepercayaan konsumen dan penjualan ritel dalam negeri. Data ini bisa menggambarkan sejauh mana suku bunga tinggi memengaruhi sektor rumah tangga, yang pada akhirnya, berdampak prospek pasar saham. “Pasar saham menjadi substitusi pasar surat utang pemerintah,” tutur Ahmad.
Sementara dari eksternal, antara lain pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Jepang kuartal I 2024, tingkat pengangguran Inggris April, inflasi AS Mei, dan rapat The Fed.
"Pertumbuhan PDB Jepang diperkirakan terkontraksi menjadi -1,9%, sementara tingkat pengangguran Inggris diproyeksikan tetap sekitar 4,3%. Inflasi AS diperkirakan 3,4% year on year (yoy), dengan inflasi inti sedikit melambat ke 3,5%. Rapat the Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga di 5,25%-5,5%," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




