BI Harap Surplus Perdagangan Mei Dukung Kinerja Kuartal Dua
Selasa, 16 Juni 2015 | 11:56 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memandang bahwa tren surplus neraca perdagangan Mei 2015 ini sangat positif dalam mendukung kinerja transaksi berjalan kuartal II-2015. Otoritas moneter tersebut memperkirakan struktur neraca perdagangan Indonesia ke depan akan lebih sehat.
"Diharapkan semakin mendukung proses pemulihan keseimbangan eksternal Indonesia," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara melalui siaran pers yang juga dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Selasa (16/6).
Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin menyatakan, untuk kelima kalinya secara berturut-turut, neraca perdagangan tahun ini kembali mencatatkan surplus. Mei lalu, surplus mencapai US$ 950 juta, sehingga surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-Mei 2015 tembus US$ 3,75 miliar. Perdagangan migas masih menjadi penyumbang defisit US$ 1,98 miliar. Namun, perdagangan nonmigas mengalami surplus US$ 5,74 miliar.
"Kinerja neraca perdagangan Mei 2015 tersebut juga lebih baik dibandingkan dengan kinerja pada Mei 2014 yang mencatat surplus sebesar US$ 0,05 miliar. Selain itu, surplus neraca perdagangan juga lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya US$ 0,48 miliar," kata Tirta.
Ditambahkannya, surplus neraca perdagangan nonmigas pada Mei 2015 meningkat menjadi US$ 1,66 miliar dari US$ 1,36 miliar bulan sebelumnya. Sementara ekspor nonmigas terkontraksi sebesar 3,9 persen (mtm) menjadi US$ 11,19 miliar karena turunnya ekspor lemak dan minyak baik hewani maupum nabati, bahan bakar mineral, mesin dan peralatan listrik, karet dan barang dari karet hingga kendaraan.
Penurunan ekspor nonmigas tertahan oleh perbaikan kinerja ekspor beberapa komoditas, terutama bijih, kerak, dan abu logam, benda-benda dari besi dan baja serta bahan kimia anorganik.
Penurunan kinerja ekspor juga bersamaan dengan penurunan impor nonmigas sebesar 7,4 persen (mtm) menjadi US$ 9,53 karena penurunan impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, serta besi dan baja. "Penurunan defisit tersebut dipengaruhi oleh penurunan ekspor migas sebesar 6,0 persen (mtm) yang disertai dengan penurunan impor migas yang lebih dalam sebesar 10,9 persen (mtm)," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




