Mendag Zulhas Tanggapi Deflasi RI 5 Bulan Berturut-turut
Jumat, 4 Oktober 2024 | 15:43 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) angkat bicara perihal deflasi atau fenomena penurunan harga yang terjadi di Indonesia. Hal itu disebut-sebut terjadi imbas menurunnya daya beli masyarakat. Zulhas mengaku masih mengkaji fenomena deflasi itu.
Zulhas menyebut bahwa sejumlah harga-harga di pasar mengalami penurunan, belum tentu disebabkan karena daya beli masyarakat yang menurun. Namun, bisa saja karena harga pangan di pasar terlalu murah. Ia pun mengaku bahwa pemerintah belum memiliki strategi untuk mengatasi hal itu.
BACA JUGA
Sri Mulyani Anggap Deflasi 5 Bulan Berturut-turut Berikan Dampak Positif bagi Daya Beli Masyarakat
"Terlalu murah ini kan kita belum ada jalan untuk membantunya. Seperti cabai dan bawang murah sekali, termasuk juga telur. Nah apakah itu terkait dengan daya beli?" ujar Zulhas saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (4/10/2024).
Zulhas menyebut bahwa berdasarkan temuannya di lapangan, penurunan harga yang terjadi di sejumlah komoditas, seperti cabai, bawang, dan telur bisa saja disebabkan stok yang melebihi jumlah permintaan yang ada secara normal, sehingga hukum ekonomi berlaku.
"Ketika keliling ke pasar-pasar, memang yang nampak itu karena peralihan musim. Dahulu musim hujan dan setelah itu enggak hujan, sehingga panennya sempurna. Bawang dan cabai kalau hujan terlalu banyak, maka dia busuk, sehingga saat ini suplainya banyak," tambahnya.
Meski demikian, Zulhas belum bisa menyimpulkan penyebab terjadinya deflasi yang terjadi melanda Indonesia sekitar 5 bulan terakhir. Ia mengaku masih mengkaji hal ini lebih lanjut.
"Apa karena suplainya banyak sekali sehingga harganya terlalu murah atau daya beli yang turun nanti kita lihat, kita kaji lebih lanjut," ucap Zulhas.
Sementara itu, analis kebijakan ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani membeberkan, deflasi selama lima bulan beruntun yang dialami Indonesia dan kontraksi purchasing manager index (PMI) manufaktur tiga bulan ke belakang, merupakan pekerjaan rumah (PR) yang mendalam bagi perekonomian domestik.
“Saya pikir ini menjadi tantangan pemerintah untuk ke depannya,” tutur Ajib Hamdani dalam Investor Market Today IDTV, Rabu (2/10/2024).
Menurut Ajib, deflasi yang terus terjadi tersebut bukan dipengaruhi oleh penurunan harga barang, seperti yang disebutkan oleh pemerintah dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS).
Pasalnya, pada dasarnya hal itu mencerminkan tingkat daya beli masyarakat yang sedang menurun. Terlebih jika memang harga-harga melandai, maka tentu hal tersebut disebabkan oleh permintaan yang berkurang.
“Bahkan dari sisi supply-nya pun, indikator kita menunjukkan mengalami tekanan juga, yaitu dari PMI yang lima bulan berturut-turut sejak April mengalami tren yang terus menurun dan kontraksi PMI-nya di bawah 50,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




