Harga Pangan Terkendali, 3 Daerah Pascabencana Sumatera Alami Deflasi
Selasa, 3 Februari 2026 | 07:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan positif pengendalian harga pangan di sejumlah wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. Tiga provinsi pascabencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mengalami deflasi pada Januari 2026 setelah sebelumnya mencatat inflasi cukup tinggi pada Desember 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, ketiga provinsi tersebut menunjukkan tren penurunan harga secara month to month pada awal 2026.
“Khusus inflasi pascabencana pada tiga provinsi yang terkena bencana hidrometeorologi, Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami deflasi di awal tahun 2026 setelah sebelumnya di Desember 2025 mengalami inflasi cukup tinggi,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Senin (2/2/2026).
Secara rinci, Aceh yang pada Desember 2025 mengalami inflasi 3,60%, berbalik menjadi deflasi 0,15% pada Januari 2026. Sumatera Utara dari inflasi 1,66% pada Desember, berubah menjadi deflasi 0,75% pada Januari. Sementara Sumatera Barat turun dari inflasi 1,48% pada Desember 2025 menjadi deflasi 1,15% pada Januari 2026.
Ateng menyebut, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar di ketiga provinsi tersebut. Kondisi ini mencerminkan terjaganya pasokan pangan pokok di tengah proses pemulihan pascabencana, sehingga tekanan harga komoditas utama dapat ditekan.
“Pada periode secara umum, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar pada ketiga provinsi tersebut. Seperti Aceh yang utamanya didorong oleh penurunan harga telur ayam ras, sedangkan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat terutama dipicu penurunan harga cabai merah,” jelasnya.
Deflasi juga dipengaruhi langkah cepat pemerintah, termasuk Kementerian Pertanian, dalam merespons dampak bencana hidrometeorologi. Penguatan distribusi, penyaluran bantuan pangan, serta pengamanan pasokan komoditas strategis memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga di wilayah terdampak, sehingga tekanan inflasi pascabencana dapat segera diredam.
Sementara itu, secara nasional, pada Januari 2026 tercatat deflasi 0,15% secara month to month, dengan indeks harga turun dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat deflasi terbesar sebesar 1,03% dengan andil deflasi 0,30%. Komoditas utama penyumbang deflasi antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
“Pada Januari 2026 terjadi deflasi 0,15% secara month to month atau terjadi penurunan indeks harga dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026,” ujar Ateng.
BPS juga mencatat, memasuki awal 2026 sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah mulai memasuki masa panen. Peningkatan pasokan ini turut menekan harga pangan di tingkat konsumen.
Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan daerah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, terutama di wilayah rawan bencana, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




