ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

3 Peneliti Kesenjangan Negara Raih Nobel Ekonomi

Selasa, 15 Oktober 2024 | 10:36 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
(kiri ke kanan) Ekonom Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan Ekonom James A. Robinson meraih nobel ekonomi
(kiri ke kanan) Ekonom Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan Ekonom James A. Robinson meraih nobel ekonomi (AP Photo)

Jakarta, Beritasatu.com - Tiga ekonom meraih hadiah nobel ekonomi atas studinya tentang kemakmuran negara dan kesenjangan ekonomi. Ketiga ekonom tersebut yaitu Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan James A Robinson.

Dilansir dari AP, Selasa (15/10/2024), para ekonom ini meneliti mengapa beberapa negara makmur sementara yang lain tetap miskin. Mereka menunjukkan bahwa negara dengan masyarakat terbuka dan lembaga demokratis yang kuat cenderung lebih sejahtera.

Komite Nobel menegaskan, karya mereka menggarisbawahi pentingnya lembaga masyarakat dalam mendukung kemakmuran ekonomi.

Johnson dan Acemoglu bekerja di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sedangkan Robinson melakukan penelitian di University of Chicago.

ADVERTISEMENT

Jakob Svensson, ketua Komite Penghargaan Ilmu Ekonomi, menyebut penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang alasan utama mengapa beberapa negara berhasil, sementara yang lain gagal.

Acemoglu mengaku terkejut menerima penghargaan ini. Ekonom kelahiran Turki berusia 57 tahun tersebut menekankan, penelitiannya mendukung pentingnya demokrasi. Namun, memperkenalkan demokrasi bukanlah solusi instan dan sering kali memicu tantangan baru, termasuk konflik.

Robinson dalam wawancaranya dengan AP juga  menyatakan keraguannya bahwa China dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi apabila tetap menggunakan sistem politik represif. Ia menyebut banyak contoh masyarakat otoriter yang berhasil berkembang dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam jangka panjang, seperti Uni Soviet.

Acemoglu dan Robinson populer melalui buku berjudul Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty (2012). Dalam buku tersebut, mereka menyoroti bahwa kemiskinan sering kali disebabkan oleh faktor buatan manusia, terutama lembaga politik dan ekonomi yang tidak inklusif.

Sementara itu, Johnson menyoroti masalah ekonomi di Amerika Serikat, seperti dampak globalisasi dan otomatisasi yang telah memperlemah kelas menengah. Johnson juga menggarisbawahi pentingnya pengelolaan teknologi baru, seperti kecerdasan buatan (AI).

"AI bisa menjadi alat pemberdayaan atau justru memperburuk ketimpangan, tergantung bagaimana kita mengelolanya," kata Johnson. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon