ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Faktor-faktor yang Menghambat Pertumbuhan Ekonomi, dari PMI Manufaktur hingga IHK

Rabu, 5 Februari 2025 | 17:36 WIB
RS
AD
Penulis: Rama Sukarta | Editor: AD
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (B Universe Photo/Joanito de Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 jatuh pada angka 5.03%. Angka ini didapat dari kenaikan nilai produk domestik bruto atas dasar harga konstan (PDB ADHK) Indonesia sebesar Rp 12.920,28 triliun dan PDB atas dasar harga berlaku (PDB ADHB) sebesar Rp 22.138,96 triliun.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan, menurunnya raihan PDB Indonesia sepanjang 2024 telah diprediksi. Ia mengakui, PDB ADHK dan PDB ADHB Indonesia memang tumbuh, tetapi pertumbuhannya jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Ini menjadi catatan bagi pemerintah bahwa ada beberapa kebijakan yang harus terus diperbaiki, terutama dari aspek sumber pertumbuhan ekonomi terutama dari industri pengolahan. Kita ketahui sektor pengolahan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi yang paling besar. Namun, sayangnya terus menurun dari 2022 di angka 1,01%, kemudian pada 2023  0,95% dan 2024 turun 0,9%," ucap Rizal kepada Beritasatu.com, Rabu (5/2/2024).

ADVERTISEMENT

Menurut Rizal, pilar-pilar ekonomi Indonesia dapat mencatatkan kinerja yang lebih baik dari realisasinya selama 2024. Namun ia tidak menampik ada banyak faktor yang menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi tersebut.

"Memang pada 2024 ini, PMI manufaktur kita pernah tiga bulan, empat bulan berturut-turut di bawah level 50. Ini tentu akan berpengaruh terhadap kinerja dari industri pengolahan, utamanya industri-industri yang ekstraktif, yang memang memiliki nilai tambah yang besar," tambah Rizal.

Selain PMI manufaktur, Rizal menyebut deflasi yang terjadi juga memengaruhi rendahnya pertumbuhan konsumsi masyarakat. Hal ini otomatis memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

"Turunnya daya beli masyarakat berpengaruh terhadap konsumsi. Kalau dilihat dari sisi pengeluaran, ternyata justru yang punya konsumsi paling tinggi itu konsumsi rumah tangga dan juga ekspor. Namun, ternyata konsumsi rumah tangga di bawah 5%," ucapnya.

"Mestinya kalau ingin mencapai target pertumbuhan 5%, maka setidaknya konsumsi yang punya kontribusi terhadap PDB kita katakanlah 54%. Harusnya yang mungkin lebih besar angkanya terutama dari konsumsi rumah tangganya," tambah Rizal.

Rizal menyampaikan sarannya kepada pemerintah untuk dapat mengeluarkan stimulus-stimulus yang dapat mendorong perputaran ekonomi. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi ke depannya.

"Yang mesti menjadi sasaran lagi adalah bagaimana mengoptimalkan stimulus fiskal, untuk mendorong kinerja ekonomi utamanya terhadap pembentukan nilai tambah yang berbasis pada industri ekstraktif ini," tutup Rizal dalam menanggapi pertumbuhan ekonomi.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon