ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Fenomena Sell in May, Mitos atau Fakta di Pasar Saham Indonesia?

Rabu, 21 Mei 2025 | 11:36 WIB
RS
AD
Penulis: Rama Sukarta | Editor: AD
Ilustrasi IHSG.
Ilustrasi IHSG. (Antara/Bayu Pratama)

Jakarta, Beritasatu.com - Dunia pasar modal mengenal fenomena musiman "Sell in May and Go Away", sebuah strategi klasik yang menyarankan investor untuk menjual saham pada bulan Mei karena kecenderungan pasar melemah selama musim panas.

Istilah ini berasal dari Inggris, dengan kalimat lengkap "Sell in May and go away: Don't come back until St Leger's Day." Namun, benarkah strategi ini juga relevan di pasar saham Indonesia?

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso mengakui adanya tren penurunan indeks pada Juni hingga Agustus. Namun, ia menegaskan bahwa penurunan ini tidak serta-merta bisa disimpulkan sebagai dampak langsung dari fenomena global tersebut.

ADVERTISEMENT

“Fenomena itu muncul karena libur musim panas para fund manager di negara empat musim. Namun, di Indonesia, kita memang melihat siklus pelemahan di pertengahan tahun hingga sekitar September,” ujar Aria dalam wawancara daring dengan Beritasatu.com, Rabu (21/5/2025).

Menurut Aria, investor perlu menyikapi tren Sell In May tersebut dengan bijak. Ia menyarankan untuk mengurangi posisi agresif di pertengahan tahun, lalu mulai bersiap membeli saham ketika harga mulai terkoreksi atau buy on weakness.

“Setelah perlambatan pasar usai, biasanya ada peluang terjadinya rally pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya,” katanya.

Di tengah ketidakpastian pasar, Aria juga membagikan sejumlah strategi bagi investor ritel. Ia menyarankan untuk berinvestasi pada emiten dengan fundamental yang kuat serta memiliki rekam jejak pemulihan pasca krisis.

“Strategi rotasi sektor atau entry-exit jangka pendek bisa dilakukan saat pasar sangat volatile. Selama fundamental perusahaan solid, tak masalah jika diperpanjang masa simpan sahamnya,” jelas Aria.

Namun sebaliknya, bagi saham-saham dengan kinerja yang tidak menjanjikan ke depan, Aria menyarankan agar investor mempertimbangkan untuk mencairkan dan memindahkannya ke saham dengan valuasi lebih menarik.

“Kuncinya adalah evaluasi portofolio secara berkala dan fleksibel terhadap kondisi pasar yang terus berubah,” tutupnya terkait fenomena Sell in May.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon